Membaca bukan sekadar kegiatan melihat rangkaian huruf kemudian mengucapkan kata-kata yang tertulis. Proses membaca yang sebenarnya melibatkan aktivitas berpikir yang kompleks. Seorang pembaca perlu menghubungkan informasi dalam teks dengan pengetahuan, pengalaman, bahasa, dan pemahaman yang sudah dimilikinya. Dalam proses inilah skema dalam membaca memiliki peranan yang sangat penting.
Skema membantu pembaca memahami informasi baru dengan cara menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah tersimpan sebelumnya. Ketika seseorang membaca sebuah teks tentang banjir, misalnya, ia akan lebih mudah memahami isi bacaan apabila sebelumnya sudah mengetahui tentang hujan, sungai, saluran air, lingkungan, atau pengalaman melihat banjir secara langsung.
Konsep tersebut dikenal sebagai teori skema atau Schema Theory. Dalam pembelajaran membaca, teori ini menjelaskan bahwa pemahaman tidak hanya ditentukan oleh informasi yang terdapat dalam teks, tetapi juga oleh pengetahuan yang dibawa pembaca ketika berhadapan dengan teks.
Oleh karena itu, memahami peranan skema dalam membaca sangat penting, terutama bagi guru yang ingin meningkatkan kemampuan membaca pemahaman peserta didik.
Apa yang Dimaksud dengan Skema dalam Membaca?
Secara sederhana, skema dalam membaca adalah struktur pengetahuan atau pengalaman yang telah tersimpan dalam pikiran pembaca dan digunakan untuk memahami informasi baru dalam sebuah teks.
Skema dapat terbentuk dari berbagai sumber, seperti pengalaman sehari-hari, pembelajaran di sekolah, kebiasaan membaca, lingkungan keluarga, budaya, pengetahuan bahasa, maupun interaksi sosial.
Sebagai contoh, seorang anak yang sering pergi ke pasar akan memiliki pengetahuan tertentu tentang pasar. Ia mengetahui bahwa pasar biasanya memiliki pedagang, pembeli, barang dagangan, proses tawar-menawar, dan aktivitas jual beli.
Ketika anak tersebut membaca cerita tentang kegiatan di pasar, informasi dalam bacaan akan lebih mudah dipahami karena sesuai dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya.
Sebaliknya, jika seorang anak membaca teks tentang suatu tempat atau kegiatan yang sama sekali tidak dikenalnya, ia mungkin membutuhkan penjelasan tambahan agar dapat memahami isi teks secara utuh.
Dengan demikian, membaca dapat dipandang sebagai proses membangun makna. Pembaca tidak hanya menerima informasi dari teks, tetapi juga menggunakan pengetahuan sebelumnya untuk menafsirkan informasi tersebut.
Teori Skema dalam Membaca
Teori skema memandang bahwa manusia menyimpan pengetahuan dalam bentuk struktur mental yang saling berhubungan. Struktur tersebut dapat diaktifkan ketika seseorang menemukan informasi yang berkaitan dengannya.
Dalam konteks membaca, skema berfungsi sebagai semacam “kerangka berpikir” yang membantu pembaca mengorganisasi informasi.
Ketika membaca sebuah teks, pembaca dapat melakukan beberapa aktivitas mental, antara lain:
Mengingat pengalaman yang berkaitan dengan topik.
Memperkirakan isi bacaan.
Menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan lama.
Menafsirkan informasi yang tidak dijelaskan secara langsung.
Menarik kesimpulan.
Mengevaluasi informasi yang diperoleh.
Membentuk pemahaman baru.
Artinya, semakin relevan pengetahuan awal yang dimiliki pembaca, semakin banyak kemungkinan hubungan yang dapat dibuat dengan informasi dalam teks.
Namun, skema bukan berarti pembaca boleh mengabaikan teks. Pengetahuan awal tetap harus diperiksa berdasarkan informasi yang benar-benar terdapat dalam bacaan. Jika prediksi awal tidak sesuai dengan teks, pembaca perlu memperbaiki atau mengembangkan pemahamannya.
Mengapa Skema Penting dalam Membaca?
Peranan skema dalam membaca sangat besar karena pemahaman tidak berlangsung secara pasif. Pembaca harus aktif mengolah informasi.
Beberapa peranan utama skema dalam membaca adalah sebagai berikut.
1. Membantu Memahami Isi Bacaan
Skema membantu pembaca mengenali informasi yang sudah familier. Ketika pembaca menemukan informasi yang berhubungan dengan pengalaman sebelumnya, proses memahami teks dapat menjadi lebih mudah.
Misalnya, siswa yang sudah memahami konsep daur air akan lebih mudah memahami teks tentang hujan, penguapan, kondensasi, dan air tanah.
2. Membantu Membuat Prediksi
Sebelum membaca seluruh teks, pembaca dapat membuat dugaan mengenai isi bacaan berdasarkan judul, gambar, kata kunci, atau pengetahuan sebelumnya.
Contohnya, ketika siswa melihat judul “Cara Menjaga Kebersihan Lingkungan Sekolah”, mereka dapat memperkirakan bahwa teks tersebut mungkin membahas membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan kelas, membersihkan halaman, dan sebagainya.
Prediksi tersebut kemudian dikonfirmasi atau diperbaiki setelah siswa membaca teks.
3. Membantu Menemukan Informasi Tersirat
Tidak semua informasi dalam bacaan ditulis secara langsung. Pembaca terkadang harus melakukan penalaran untuk menemukan maksud tertentu.
Skema membantu pembaca menghubungkan beberapa informasi sehingga dapat menghasilkan kesimpulan yang tidak ditulis secara eksplisit.
4. Membantu Mengingat Informasi
Informasi baru lebih mudah diingat apabila mempunyai hubungan dengan pengetahuan yang sudah ada.
Misalnya, siswa belajar tentang pahlawan nasional. Jika guru menghubungkan materi tersebut dengan tempat tinggal, daerah perjuangan, atau cerita sejarah yang sudah diketahui siswa, informasi baru akan memiliki kaitan yang lebih kuat dalam ingatan.
5. Membantu Memahami Kosakata
Pengetahuan sebelumnya juga membantu pembaca memahami kata yang belum sepenuhnya dikenal.
Pembaca dapat menggunakan konteks kalimat, topik bacaan, dan pengalaman sebelumnya untuk memperkirakan arti sebuah kata.
6. Membantu Pembaca Menilai Informasi
Skema tidak hanya berguna untuk memahami teks, tetapi juga membantu pembaca membandingkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.
Pembaca dapat bertanya: Apakah informasi ini masuk akal? Apakah sesuai dengan fakta yang diketahui? Apakah ada informasi yang perlu diperiksa kembali?
Kemampuan tersebut penting dalam pembelajaran literasi di era informasi.
Jenis-Jenis Skema dalam Membaca
Dalam pembelajaran membaca, skema dapat dilihat dari beberapa bentuk.
1. Skema Linguistik
Skema linguistik berkaitan dengan pengetahuan pembaca mengenai bahasa, seperti kosakata, tata bahasa, struktur kalimat, dan makna kata.
Siswa yang memiliki penguasaan bahasa yang baik cenderung lebih mudah memahami teks karena tidak terlalu banyak mengalami hambatan pada tingkat kata dan kalimat.
2. Skema Isi
Skema isi merupakan pengetahuan tentang topik atau bidang tertentu.
Misalnya, siswa yang memiliki pengetahuan tentang tumbuhan akan lebih mudah memahami teks mengenai fotosintesis dibandingkan siswa yang belum pernah mempelajari konsep tersebut.
3. Skema Formal
Skema formal berkaitan dengan pengetahuan pembaca mengenai bentuk dan struktur teks.
Pembaca yang terbiasa membaca cerita akan mengenali tokoh, latar, konflik, dan penyelesaian. Sementara itu, pembaca yang terbiasa membaca teks eksplanasi akan mengetahui bahwa teks tersebut biasanya menjelaskan proses terjadinya suatu fenomena.
Pengetahuan tentang struktur teks membantu pembaca mengetahui informasi apa yang kemungkinan akan muncul.
Manfaat Skema dalam Pembelajaran Membaca
Penerapan skema dapat memberikan berbagai manfaat dalam pembelajaran.
Pertama, skema dapat membuat siswa lebih aktif sebelum membaca. Mereka tidak langsung berhadapan dengan teks dalam keadaan pasif, tetapi diajak mengingat pengetahuan yang sudah dimiliki.
Kedua, skema dapat meningkatkan motivasi membaca. Topik yang dikaitkan dengan pengalaman siswa biasanya terasa lebih dekat dan menarik.
Ketiga, skema membantu meningkatkan pemahaman bacaan karena siswa belajar menghubungkan informasi baru dengan informasi lama.
Keempat, skema dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Siswa tidak hanya menjawab pertanyaan berdasarkan kalimat yang tertulis, tetapi juga belajar membuat hubungan, memberikan alasan, menarik kesimpulan, dan mengevaluasi informasi.
Kelima, penggunaan skema dapat membantu guru mengetahui sejauh mana pengetahuan awal siswa sebelum pembelajaran dimulai.
Hal ini penting karena dua siswa yang membaca teks yang sama belum tentu menghasilkan pemahaman yang sama. Perbedaan pengalaman dan pengetahuan awal dapat memengaruhi cara mereka memahami bacaan.
Strategi Mengaktifkan Skema Sebelum Membaca
Salah satu cara paling efektif menerapkan teori skema adalah mengaktifkan pengetahuan awal siswa sebelum mereka membaca.
Guru dapat menggunakan beberapa strategi berikut.
1. Brainstorming
Guru menyebutkan sebuah topik, kemudian meminta siswa menyampaikan semua hal yang mereka ketahui.
Misalnya topiknya adalah “banjir”.
Guru dapat bertanya:
Apa yang kalian ketahui tentang banjir?
Mengapa banjir bisa terjadi?
Pernahkah kalian melihat banjir?
Apa akibat banjir?
Bagaimana cara mencegah banjir?
Jawaban siswa menjadi pintu masuk menuju teks yang akan dibaca.
2. Menggunakan Gambar
Gambar merupakan media sederhana untuk membangkitkan pengetahuan awal.
Sebelum membaca teks tentang lingkungan, guru dapat menampilkan gambar lingkungan bersih dan lingkungan penuh sampah. Siswa diminta mengamati dan menjelaskan perbedaan kedua gambar tersebut.
Setelah itu, siswa membaca teks yang berkaitan dengan masalah lingkungan.
3. Memprediksi Isi Bacaan
Guru dapat memberikan judul bacaan terlebih dahulu tanpa menunjukkan seluruh teks.
Siswa kemudian diminta memprediksi isi bacaan berdasarkan judul tersebut.
Setelah membaca, siswa membandingkan prediksi awal dengan isi sebenarnya.
Aktivitas ini membuat proses membaca menjadi lebih aktif karena siswa mempunyai tujuan untuk menemukan apakah prediksinya benar atau tidak.
4. Menggunakan Peta Konsep
Peta konsep dapat digunakan untuk menunjukkan hubungan antara pengetahuan yang sudah dimiliki dengan informasi baru.
Contohnya, sebelum membaca teks tentang energi, siswa membuat peta konsep sederhana:
Energi → listrik → panas → cahaya → gerak
Setelah membaca teks, siswa dapat memperbaiki atau menambahkan informasi baru pada peta tersebut.
5. Menghubungkan Teks dengan Pengalaman
Guru dapat mengajukan pertanyaan yang menghubungkan bacaan dengan kehidupan siswa.
Misalnya sebelum membaca cerita tentang kerja bakti:
“Apakah kalian pernah mengikuti kerja bakti?”
“Biasanya apa yang dilakukan saat kerja bakti?”
“Bagaimana perasaan kalian setelah lingkungan menjadi bersih?”
Pertanyaan tersebut membantu mengaktifkan pengalaman yang relevan.
Strategi Skema Saat Membaca
Aktivasi skema tidak harus berhenti sebelum membaca. Skema juga dapat digunakan selama siswa membaca.
Guru dapat meminta siswa berhenti pada bagian tertentu untuk memperkirakan kelanjutan cerita, menjelaskan hubungan antargagasan, atau membandingkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan adalah membaca dengan pertanyaan pemandu.
Contohnya:
Apa gagasan utama paragraf ini?
Informasi apa yang baru kamu ketahui?
Apakah informasi tersebut sesuai dengan pengetahuanmu?
Apa yang mungkin terjadi selanjutnya?
Mengapa tokoh melakukan tindakan tersebut?
Dengan cara ini, siswa tidak hanya membaca kata demi kata, tetapi melakukan proses berpikir selama membaca.
Strategi Skema Setelah Membaca
Setelah membaca, siswa perlu diberi kesempatan untuk mengolah kembali informasi yang telah diperoleh.
Beberapa kegiatan yang dapat digunakan adalah:
membuat rangkuman;
membuat peta konsep;
menjawab pertanyaan;
menceritakan kembali isi bacaan;
membandingkan teks dengan pengalaman;
menulis pendapat;
menemukan informasi penting;
membuat pertanyaan berdasarkan bacaan.
Kegiatan tersebut membantu siswa mengintegrasikan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya.
Contoh Penerapan Skema dalam Pembelajaran SD
Misalnya guru kelas V SD akan mengajarkan teks berjudul “Pentingnya Menjaga Hutan”.
Sebelum membaca, guru menunjukkan gambar hutan yang hijau dan hutan yang gundul.
Guru kemudian bertanya:
“Pernahkah kalian melihat hutan?”
“Menurut kalian, mengapa hutan penting?”
“Apa yang terjadi jika banyak pohon ditebang?”
Jawaban siswa dicatat di papan.
Setelah itu siswa membaca teks.
Ketika menemukan informasi tentang banjir dan tanah longsor, guru meminta siswa menghubungkannya dengan pengetahuan awal.
Setelah selesai membaca, siswa membuat kesimpulan dan membandingkannya dengan jawaban sebelum membaca.
Model sederhana tersebut sebenarnya sudah menerapkan prinsip teori skema.
Kelebihan Penggunaan Skema dalam Membaca
Teknik skema memiliki beberapa kelebihan.
Pertama, pembelajaran menjadi lebih aktif karena siswa dilibatkan dalam proses membangun pemahaman.
Kedua, guru dapat menghubungkan materi dengan kehidupan nyata siswa.
Ketiga, siswa belajar bahwa membaca bukan sekadar mencari jawaban yang tertulis secara langsung.
Keempat, strategi ini dapat diterapkan pada berbagai jenis teks, seperti cerita, teks informasi, teks eksplanasi, teks prosedur, artikel, maupun bacaan ilmiah sederhana.
Kelima, teknik skema dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan memprediksi, menghubungkan informasi, menyimpulkan, dan mengevaluasi.
Kekurangan dan Tantangan Penerapan Skema
Meskipun bermanfaat, penggunaan skema juga mempunyai tantangan.
Tidak semua siswa memiliki pengalaman dan pengetahuan awal yang sama. Ada siswa yang sangat mengenal suatu topik, tetapi ada pula yang hampir tidak mempunyai pengalaman mengenai topik tersebut.
Jika guru hanya mengandalkan pengetahuan awal siswa, kesenjangan pemahaman dapat semakin besar.
Karena itu, guru perlu menyediakan scaffolding atau bantuan awal. Bantuan dapat berupa gambar, video, kata kunci, penjelasan singkat, contoh konkret, atau pengalaman langsung.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kemungkinan pengetahuan awal siswa kurang tepat. Jika siswa mempunyai pemahaman yang salah, guru perlu membantu meluruskannya setelah informasi yang benar ditemukan.
Dengan demikian, skema sebaiknya digunakan sebagai jembatan menuju pemahaman, bukan sebagai pengganti teks.
Apakah Semakin Banyak Skema Selalu Membuat Membaca Lebih Baik?
Tidak selalu.
Yang penting bukan hanya jumlah pengetahuan yang dimiliki pembaca, tetapi relevansi dan ketepatan pengetahuan tersebut terhadap bacaan.
Seseorang dapat memiliki banyak pengetahuan, tetapi jika pengetahuan tersebut tidak berkaitan dengan teks, manfaatnya mungkin terbatas.
Selain itu, penelitian mengenai hubungan skema dan kemampuan membaca tidak selalu menunjukkan hasil yang sama pada semua konteks. Ada penelitian yang menemukan manfaat atau pengaruh positif penggunaan teknik skema, sementara penelitian lain menunjukkan bahwa pengaruh skema dapat bergantung pada jenis kompetensi membaca dan karakteristik pembelajar.
Karena itu, guru sebaiknya tidak menganggap teori skema sebagai satu-satunya cara untuk meningkatkan kemampuan membaca. Skema perlu dipadukan dengan penguasaan kosakata, strategi memahami struktur teks, latihan membaca, kemampuan metakognitif, dan kegiatan evaluasi.
Peranan Guru dalam Mengembangkan Skema Siswa
Guru memiliki posisi penting dalam membantu siswa membangun dan mengembangkan skema.
Guru dapat memperkaya pengalaman siswa melalui kegiatan membaca beragam teks, diskusi, pengamatan lingkungan, praktik, kunjungan, penggunaan media visual, serta kegiatan yang menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari.
Semakin banyak pengalaman bermakna yang diperoleh siswa, semakin banyak pula pengetahuan yang dapat digunakan ketika mereka berhadapan dengan bacaan baru.
Guru juga perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan pendapat. Jawaban siswa tidak selalu harus langsung benar. Yang lebih penting adalah bagaimana siswa belajar menjelaskan alasan, menghubungkan informasi, kemudian memperbaiki pemahamannya berdasarkan bukti dari teks.
Kesimpulan
Peranan skema dalam membaca sangat penting karena skema membantu pembaca menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah dimiliki. Melalui teori skema, membaca dipahami sebagai proses aktif dalam membangun makna, bukan sekadar mengenali kata dan kalimat.
Skema dapat membantu pembaca memahami isi bacaan, membuat prediksi, menemukan informasi tersirat, mengingat informasi, memahami kosakata berdasarkan konteks, dan mengevaluasi informasi.
Dalam pembelajaran, guru dapat mengaktifkan skema melalui brainstorming, gambar, prediksi judul, peta konsep, pertanyaan pemantik, hubungan teks dengan pengalaman, serta kegiatan rangkuman setelah membaca.
Namun, penggunaan skema tetap perlu dilakukan secara seimbang. Pengetahuan awal yang tidak tepat harus diperbaiki, sementara siswa yang memiliki pengalaman terbatas perlu mendapatkan bantuan agar dapat memahami bacaan.
Pada akhirnya, tujuan utama penggunaan skema bukan sekadar membuat siswa mampu menjawab pertanyaan bacaan. Tujuannya adalah membentuk pembaca aktif yang mampu berpikir, menghubungkan informasi, membuat kesimpulan, dan membangun pengetahuan baru dari apa yang dibacanya.
Referensi
- Fahriany. Schema Theory in Reading Class. IJEE (Indonesian Journal of English Education), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Artikel ini membahas peran pengetahuan yang telah dimiliki pembaca dalam membangun makna ketika membaca.
- Sulikhah, S., Utomo, S., & Santoso. Pengaruh Teknik Survey Question Read Reflect Recite Review (SQ4R) dan Teknik Skema terhadap Kemampuan Membaca Pemahaman Mata Pelajaran Bahasa Indonesia pada Siswa SD Negeri Kelas III di Kecamatan Karanganyar Demak. KREDO: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra, Universitas Muria Kudus. Penelitian tersebut mengkaji penerapan teknik skema pada kemampuan membaca pemahaman siswa SD.
- Nurbaya, S., Rahman, F., Rustono, & Subyantoro. Pengaruh Skemata terhadap Kompetensi Membaca Pemahaman Berbasis Taksonomi Ruddell. LITERA, Universitas Negeri Yogyakarta. Penelitian ini penting sebagai penyeimbang karena menemukan bahwa pengaruh skemata tidak otomatis sama pada seluruh kompetensi membaca.
Thanks for reading Peranan Skema dalam Membaca: Pengertian, Teori, Manfaat, dan Strategi Penerapannya. Please share...!
0 Komentar untuk "Peranan Skema dalam Membaca: Pengertian, Teori, Manfaat, dan Strategi Penerapannya"