"Menjelajah Bahasa Indonesia, Memaknai Sastra"

“Dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan seni hidup menjadi indah, dan dengan agama hidup menjadi terarah.”
— Ki Hajar Dewantara

Dari Politik Etis hingga Sumpah Pemuda: Lahirnya Bahasa Indonesia dan Perkembangan Sastra di Nusantara



Sejarah lahirnya bahasa Indonesia dan perkembangan sastra modern di Nusantara tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang bangsa ini ketika berada di bawah kekuasaan kolonial. Mulai dari masa kerajaan-kerajaan besar, kedatangan bangsa-bangsa Eropa, politik adu domba Belanda, hingga munculnya golongan terpelajar bumiputra yang kemudian melahirkan nasionalisme baru semuanya saling bertautan dan berperan penting dalam membentuk wajah sastra Indonesia seperti yang kita kenal saat ini.

Tulisan ini merangkum perjalanan panjang tersebut: bagaimana bahasa Melayu berkembang menjadi bahasa persatuan, bagaimana lahirnya kesadaran nasional melalui bahasa, serta bagaimana sastra Indonesia berkembang dari sastra Melayu klasik menuju sastra modern.

1. Awal Mula: Kerajaan Nusantara dan Kedatangan Bangsa Eropa

Beberapa abad sebelum kolonialisme, Nusantara telah dikenal dengan kerajaan-kerajaan besar yang makmur, seperti Sriwijaya, Majapahit, dan kerajaan-kerajaan Melayu lainnya. Hubungan antardaerah berlangsung damai dan produktif, terutama melalui jalur perdagangan.

Namun, pada abad ke-15 dan ke-16, situasi berubah drastis ketika bangsa-bangsa Eropa datang ke Nusantara. Pada awalnya mereka mencari rempah-rempah, namun kemudian mulai menjajah, memaksakan kekuasaan, dan menerapkan politik devide et impera atau politik pecah belah yang memicu konflik antarkerajaan.

Rasa ketertindasan pun tumbuh. Bangsa Nusantara di berbagai wilayah mulai melakukan perlawanan terhadap Belanda. Memasuki akhir abad ke-19, Belanda mengubah pendekatannya melalui kebijakan baru yang dikenal sebagai politik etis. Namun kebijakan ini, meski tampak “baik”, tetap bertujuan menguntungkan penjajah.

2. Politik Etis dan Peran Golongan Terpelajar

Politik etis dimaksudkan sebagai “balas budi” Belanda kepada rakyat Nusantara. Mereka membuka kesempatan pendidikan bagi sebagian kecil bumiputra, terutama anak-anak dari kaum berada atau pegawai pemerintah lokal. Mereka bisa bersekolah di sekolah-sekolah Belanda dan mempelajari bahasa Belanda maupun Melayu.

Meskipun jumlahnya sangat terbatas, kelompok kecil ini kemudian menjadi cikal bakal intelektual-intelektual baru yang sadar bahwa bangsanya membutuhkan perubahan. Mereka menjadi jurnalis, guru, pemimpin organisasi pergerakan, dan penulis.

Di sekolah-sekolah, bahasa Melayu semakin dipakai karena lebih mudah dipahami dan digunakan sebagai bahasa pengantar. Buku-buku bacaan berbahasa Melayu yang diterbitkan Balai Pustaka memperkuat kedudukan bahasa tersebut sebagai bahasa pendidikan dan bacaan populer.

Puncak kesadaran nasional yang melibatkan bahasa terjadi pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, ketika para pemuda mengikrarkan:

  1. Bertumpah darah yang satu: tanah Indonesia

  2. Berbangsa yang satu: bangsa Indonesia

  3. Menjunjung bahasa persatuan: Bahasa Indonesia

Sejak saat itu, bahasa Melayu resmi dipilih sebagai bahasa persatuan dengan nama bahasa Indonesia.

3. Bahasa Melayu sebagai Lingua Franca Nusantara

Bahasa Melayu telah lama digunakan sebagai bahasa perdagangan, bahasa antarbangsa, bahkan sebelum kedatangan Eropa. Bahasa ini dipakai di kerajaan-kerajaan Melayu seperti Palembang, Malaka, Bintan, dan Johor. Karena penyebarannya luas, bahasa Melayu mudah diterima sebagai bahasa persatuan.

Di masa lalu, bahasa Melayu digunakan di:

  • Prasasti agama Buddha

  • Literatur keagamaan Islam

  • Teks-teks Kristen awal

  • Administrasi kerajaan

  • Tulisan perdagangan

Dengan fungsinya sebagai lingua franca, bahasa Melayu menjadi alat komunikasi yang efektif untuk menyatukan berbagai kelompok etnis di Nusantara.

4. Dari Sastra Melayu Klasik ke Sastra Melayu Modern

Pada puncak kejayaannya di Semenanjung, sastra Melayu berkembang pesat. Banyak karya sastra klasik lahir dari lingkungan bangsawan dan ulama. Namun ketika pusat kekuasaan berpindah dan dominasi kolonial Belanda semakin kuat, perkembangan sastra Melayu beralih ke Batavia.

Balai Pustaka menjadi tonggak penting dalam sejarah sastra modern. Penerbit ini menerbitkan karya-karya sastra yang menggunakan bahasa Melayu rendah (yang lebih mudah dipahami masyarakat). Karya-karya Balai Pustaka mencerminkan kehidupan rakyat sehari-hari, dan beberapa di antaranya menjadi karya sastra besar yang dikenang hingga kini.

Contoh penulis era Balai Pustaka:

  • Marah Roesli (Sitti Nurbaya)

  • Merari Siregar

  • Abdul Muis (Salah Asuhan)

Karya-karya ini menandai lahirnya Sastra Melayu Modern, yang kemudian diakui sebagai cikal bakal sastra Indonesia.

5. Sastra Indonesia Setelah Sumpah Pemuda

Setelah bahasa Indonesia diikrarkan pada 1928, istilah “sastra Melayu klasik” tidak lagi digunakan untuk karya-karya baru. Semua karya yang ditulis dengan bahasa Indonesia modern dianggap sebagai bagian dari sastra Indonesia.

Sastra Melayu Modern berkembang secara mandiri di berbagai wilayah Nusantara. Penerbit di luar Balai Pustaka ikut melahirkan banyak karya yang menggunakan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia awal. Karya-karya ini sering menggambarkan kehidupan nyata: perjuangan rakyat, konflik batin, percintaan, hingga kritik sosial terhadap kolonialisme.

Perkembangan ini mendorong lahirnya generasi baru sastrawan pada masa kemerdekaan, seperti:

  • Chairil Anwar

  • Pramoedya Ananta Toer

  • Mochtar Lubis

  • Sutan Takdir Alisjahbana

Periode inilah yang menegaskan identitas sastra Indonesia sebagai bagian penting dari perjalanan budaya bangsa.

6. Bahasa Indonesia sebagai Identitas Nasional

Mengapa bahasa Indonesia mampu diterima sebagai bahasa persatuan?

Karena:

  1. Tidak mewakili etnis mayoritas (tidak seperti Jawa atau Sunda).

  2. Sederhana dan mudah dipelajari.

  3. Sudah digunakan sebagai lingua franca.

  4. Mewarisi tradisi sastra Melayu yang kuat.

  5. Dipopulerkan melalui pendidikan, pers, dan organisasi pemuda.

Kini bahasa Indonesia hadir dalam:

  • Dunia pendidikan

  • Sastra dan kebudayaan

  • Administrasi pemerintahan

  • Media massa

  • Dunia digital dan teknologi

Bahasa Indonesia bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga simbol penyatu bangsa.

Penutup

Perjalanan bahasa Indonesia dari bahasa Melayu klasik hingga menjadi bahasa nasional merupakan sejarah panjang yang erat kaitannya dengan perjuangan bangsa. Mulai dari politik etis yang tanpa sengaja membuka kesempatan pendidikan, munculnya kaum terpelajar, perkembangan sastra Melayu, hingga ikrar Sumpah Pemuda semuanya membentuk fondasi kokoh bagi lahirnya bahasa persatuan.

Saat ini, bahasa Indonesia terus berkembang seiring kemajuan zaman, termasuk dalam bidang sastra, pendidikan, teknologi, serta komunikasi global. Bahasa Indonesia tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga identitas yang membangun jati diri bangsa di tengah arus modernisasi dunia.




Daftar Referensi 

Sneddon, James N. The Indonesian Language: Its History and Role in Modern Society. Sydney: UNSW Press, 2003.

Teeuw, Andries. Sastra Indonesia Modern II. Jakarta: Pustaka Jaya, 1994.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Sejarah Bahasa Indonesia dan Perkembangannya. Jakarta: Kemendikbud, 2015.

Zulfahnur; Siti Gomo AttasB. Rahmanto. (2025). Sejarah Sastra (BMP)/PBIN4110. Tangerang  Selatan: Universitas Terbuka

Back To Top