Model-model membaca merupakan salah satu materi penting dalam kajian keterampilan berbahasa, khususnya bagi mahasiswa pendidikan bahasa, guru, calon guru, dan siapa saja yang ingin memahami bagaimana proses membaca berlangsung. Membaca selama ini sering dianggap sebagai kegiatan sederhana karena seseorang hanya perlu melihat tulisan dan memahami isinya. Padahal, proses membaca melibatkan berbagai aktivitas yang terjadi secara bersamaan, mulai dari mengenali lambang tulisan, memahami kata dan kalimat, menghubungkan informasi, menggunakan pengetahuan sebelumnya, hingga membangun makna.
Ketika seseorang membaca sebuah artikel, misalnya, ia tidak hanya memproses huruf demi huruf. Pembaca juga memperkirakan isi bacaan, menghubungkan informasi dengan pengalaman, mengenali struktur teks, memahami kosakata berdasarkan konteks, serta membuat kesimpulan.
Karena proses membaca sangat kompleks, para ahli mengembangkan berbagai model membaca untuk menjelaskan bagaimana informasi dari teks diproses oleh pembaca. Tiga model yang paling sering dibahas dalam pembelajaran membaca adalah model bottom-up, model top-down, dan model interaktif. Ketiga model tersebut memiliki titik tekan yang berbeda, tetapi semuanya berkaitan dengan tujuan utama membaca, yaitu memperoleh dan membangun pemahaman terhadap teks.
Artikel ini membahas pengertian model membaca, jenis-jenis model membaca, karakteristik masing-masing model, kelebihan dan keterbatasannya, contoh penerapannya dalam pembelajaran, serta hubungan model membaca dengan kemampuan memahami bacaan.
Apa yang Dimaksud dengan Model Membaca?
Model membaca adalah gambaran atau kerangka teoretis yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana proses membaca berlangsung dari ketika pembaca berhadapan dengan teks sampai memperoleh pemahaman.
Membaca sendiri tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengenali huruf dan kata. Pada tingkat yang lebih tinggi, membaca merupakan kegiatan untuk membangun makna dari informasi tertulis. Dalam proses tersebut, pembaca berinteraksi dengan teks menggunakan kemampuan bahasa, pengetahuan, pengalaman, tujuan membaca, dan kemampuan berpikir.
Yeti Mulyati menjelaskan bahwa keterampilan membaca melibatkan kemampuan visual dan kemampuan kognitif. Kemampuan visual berkaitan dengan melihat lambang-lambang tulisan, sedangkan kemampuan kognitif berkaitan dengan mengolah lambang tersebut sehingga menghasilkan pemahaman.
Dari sudut pandang tersebut, model membaca membantu menjelaskan dari mana proses pemahaman dimulai dan bagaimana informasi diproses oleh pembaca.
Secara umum, model membaca dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
Model membaca bawah-atas atau bottom-up
Model membaca atas-bawah atau top-down
Model membaca interaktif atau interactive
Ketiga model ini bukan sekadar teknik membaca cepat. Model tersebut merupakan cara untuk memahami proses kognitif yang terjadi ketika seseorang membaca.
1. Model Membaca Bottom-Up
Model bottom-up sering disebut sebagai model membaca bawah-atas. Dalam model ini, proses membaca bergerak dari unsur yang paling kecil menuju unsur yang lebih besar.
Sederhananya, pembaca memulai proses dari:
huruf → kata → frasa → kalimat → paragraf → teks → makna
Dalam model bottom-up, informasi yang terdapat dalam teks menjadi sumber utama proses pemahaman. Pembaca terlebih dahulu mengenali lambang-lambang tulisan, mengidentifikasi kata, kemudian menghubungkan kata-kata tersebut menjadi satuan bahasa yang lebih besar.
Model ini memberikan perhatian besar terhadap informasi yang terdapat dalam teks. Karena itu, pembaca perlu memiliki kemampuan mengenali unsur-unsur bahasa agar dapat bergerak menuju pemahaman yang lebih luas.
Subadiyono (2014) menempatkan proses membaca sebagai kegiatan membangun atau mengonstruksi makna. Dalam praktiknya, kemampuan mengenali unsur bahasa tetap menjadi bagian penting karena pembaca membutuhkan dasar kebahasaan untuk memahami teks.
Contoh Model Bottom-Up
Perhatikan kalimat berikut:
“Rani menanam bunga di halaman sekolah.”
Pembaca yang menggunakan pemrosesan bottom-up akan mengenali:
Rani → menanam → bunga → di → halaman → sekolah
Kemudian kata-kata tersebut dipahami sebagai sebuah kalimat yang menyampaikan informasi bahwa Rani melakukan kegiatan menanam bunga di halaman sekolah.
Pada tahap berikutnya, apabila kalimat tersebut menjadi bagian dari paragraf, pembaca akan menghubungkannya dengan kalimat-kalimat lain untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap.
Ciri-Ciri Model Bottom-Up
Beberapa ciri model membaca bottom-up antara lain:
proses dimulai dari teks;
perhatian diberikan pada lambang-lambang tulisan;
pembaca mengenali huruf dan kata;
informasi diproses dari unit kecil menuju unit lebih besar;
kemampuan kosakata dan struktur bahasa sangat diperlukan;
pemahaman dibangun berdasarkan informasi yang terdapat dalam teks.
Model ini sangat relevan terutama ketika pembaca menghadapi kata-kata baru atau ketika kemampuan pengenalan kata menjadi bagian penting dari proses membaca.
Kelebihan Model Bottom-Up
Model bottom-up memiliki beberapa manfaat.
Pertama, model ini membantu pembaca memperhatikan unsur bahasa secara teliti. Hal ini penting bagi pembaca pemula yang masih mengembangkan kemampuan mengenali huruf, suku kata, kata, dan kalimat.
Kedua, model bottom-up dapat membantu pembaca memahami teks yang memiliki banyak istilah khusus. Pembaca perlu memproses kata-kata dan informasi secara lebih cermat sebelum memperoleh gambaran keseluruhan.
Ketiga, model ini dapat membantu guru mengidentifikasi masalah pada kemampuan dasar membaca. Jika siswa kesulitan memahami teks karena tidak mampu mengenali kata atau memahami kosakata, guru dapat memberikan latihan yang sesuai.
Keterbatasan Model Bottom-Up
Jika digunakan secara kaku, model bottom-up dapat membuat pembaca terlalu berfokus pada unsur kecil sehingga kehilangan gambaran umum teks.
Misalnya, seorang siswa membaca artikel dengan sangat teliti kata demi kata, tetapi tidak mampu menjelaskan gagasan utama artikel tersebut. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa pengenalan unsur bahasa saja belum cukup untuk menghasilkan pemahaman yang utuh.
Membaca membutuhkan lebih dari sekadar mengenali kata. Pembaca juga harus mampu menggunakan konteks, tujuan membaca, dan pengetahuan sebelumnya.
2. Model Membaca Top-Down
Model top-down dikenal sebagai model membaca atas-bawah. Model ini berbeda dengan bottom-up karena proses pemahaman lebih banyak dimulai dari pengetahuan, pengalaman, harapan, dan prediksi yang telah dimiliki pembaca.
Jika bottom-up bergerak dari teks menuju pemahaman, top-down dapat digambarkan sebagai:
pengetahuan pembaca → prediksi → membaca teks → menguji prediksi → pemahaman
Dalam model ini, pembaca tidak datang ke teks dalam keadaan kosong. Pembaca membawa pengetahuan dan pengalaman yang dapat digunakan untuk memahami informasi baru.
Misalnya, ketika seseorang membaca judul “Cara Menanam Cabai di Pekarangan Rumah”, ia mungkin sudah mempunyai gambaran mengenai tanah, bibit, penyiraman, pupuk, dan perawatan tanaman.
Pengetahuan tersebut kemudian digunakan untuk memperkirakan isi bacaan.
Mulyati menjelaskan bahwa model top-down berangkat dari otak menuju teks dan melibatkan prediksi berdasarkan sesuatu yang telah dikonsepkan dalam benak pembaca.
Contoh Model Top-Down
Bayangkan seorang siswa membaca judul:
“Mengapa Kita Harus Menghemat Air?”
Sebelum membaca seluruh artikel, siswa mungkin memperkirakan bahwa teks tersebut akan membahas:
pentingnya air;
penggunaan air dalam kehidupan sehari-hari;
pemborosan air;
akibat kekurangan air;
cara menghemat air.
Setelah membaca teks, siswa membandingkan prediksi awal dengan informasi yang sebenarnya terdapat dalam bacaan.
Jika prediksinya benar, skema atau pengetahuan awalnya menjadi lebih kuat. Jika prediksinya keliru, ia perlu memperbaiki pemahamannya berdasarkan informasi dalam teks.
Ciri-Ciri Model Top-Down
Model top-down memiliki beberapa karakteristik, yaitu:
mengutamakan pengetahuan awal pembaca;
pembaca membuat prediksi;
konteks sangat penting;
pembaca menggunakan pengalaman untuk memahami teks;
proses membaca bersifat aktif;
pembaca menguji dugaan berdasarkan informasi dalam bacaan.
Model ini sangat berhubungan dengan teori skema. Skema dapat dipahami sebagai struktur pengetahuan yang telah dimiliki seseorang dan dapat diaktifkan ketika berhadapan dengan informasi baru.
Karena itu, siswa yang memiliki pengetahuan awal yang relevan sering kali mempunyai lebih banyak bahan untuk membuat prediksi dan menghubungkan informasi.
3. Model Membaca Interaktif
Model interaktif merupakan model yang menggabungkan karakteristik bottom-up dan top-down.
Dalam model ini, pemahaman tidak hanya berasal dari teks dan tidak hanya berasal dari pengetahuan pembaca. Keduanya saling berinteraksi.
Gambaran sederhananya adalah:
teks ↔ pengetahuan pembaca ↔ proses berpikir ↔ konteks ↔ pemahaman
Model interaktif memandang membaca sebagai proses yang dinamis. Ketika membaca, seseorang dapat menggunakan informasi dari teks sekaligus menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki.
Mulyati menjelaskan bahwa model interaktif memanfaatkan kedua model sebelumnya sesuai kebutuhan pembaca. Tujuan akhirnya tetap memperoleh pemahaman terhadap bacaan.
Herri Susanto juga membahas tiga model utama—bottom-up, top-down, dan interactive—dalam kaitannya dengan teori membaca dan pemahaman bacaan.
Contoh Model Interaktif
Seorang siswa membaca teks tentang banjir.
Ia menemukan kalimat:
“Curah hujan yang tinggi dapat meningkatkan volume air di sungai.”
Siswa kemudian menggunakan dua sumber informasi.
Dari teks, ia memperoleh informasi tentang curah hujan dan volume air sungai.
Dari pengetahuan sebelumnya, ia mengetahui bahwa hujan deras dapat menyebabkan air sungai meluap.
Kedua informasi tersebut kemudian digabungkan untuk membentuk pemahaman yang lebih lengkap.
Jika siswa menemukan istilah yang belum dipahami, ia kembali memperhatikan konteks kalimat. Jika pengetahuan awalnya ternyata kurang tepat, informasi dalam teks dapat membantu memperbaikinya.
Inilah karakter utama model interaktif: proses memahami bacaan berlangsung melalui hubungan timbal balik antara informasi teks dan pengetahuan pembaca.
Perbedaan Bottom-Up, Top-Down, dan Interaktif
Ketiga model membaca tersebut dapat dibandingkan secara sederhana.
| Aspek | Bottom-Up | Top-Down | Interaktif |
|---|---|---|---|
| Titik awal | Teks | Pengetahuan pembaca | Teks dan pengetahuan |
| Arah proses | Bawah ke atas | Atas ke bawah | Dua arah |
| Fokus | Unsur bahasa | Pengetahuan dan prediksi | Interaksi keduanya |
| Peran pembaca | Mengolah informasi teks | Membuat prediksi | Mengolah dan menguji informasi |
| Peran pengalaman | Relatif lebih kecil | Sangat penting | Penting |
| Cocok untuk | Pengenalan bahasa dan detail teks | Pemahaman berbasis konteks | Pemahaman komprehensif |
Tabel tersebut tidak berarti bahwa seorang pembaca hanya menggunakan satu model selama membaca. Dalam praktiknya, proses membaca dapat melibatkan beberapa jenis pemrosesan sekaligus.
Apakah Ada Model Membaca yang Paling Baik?
Pertanyaan ini sering muncul dalam pembelajaran membaca.
Tidak tepat jika satu model langsung dianggap paling baik untuk semua situasi. Setiap model mempunyai fokus dan kegunaan yang berbeda.
Mulyati menegaskan bahwa tidak ada satu pun dari ketiga model tersebut yang dapat dianggap sebagai model terbaik untuk seluruh proses membaca. Masing-masing mempunyai titik perhatian tertentu.
Misalnya, ketika anak belajar mengenali huruf dan kata, kemampuan yang berkaitan dengan pemrosesan bottom-up sangat diperlukan.
Ketika siswa membaca artikel yang topiknya sudah dikenal, pengetahuan awal dan prediksi dalam model top-down dapat membantu.
Sementara ketika siswa membaca teks yang cukup kompleks, penggunaan informasi dari teks dan pengetahuan sebelumnya secara bersamaan dapat mendukung pemahaman.
Karena itu, model interaktif memberikan gambaran yang cukup luas mengenai bagaimana pembaca dapat menggunakan berbagai sumber informasi selama membaca.
Hubungan Model Membaca dengan Teori Skema
Model membaca tidak dapat dilepaskan dari pembahasan mengenai skema.
Skema merupakan pengetahuan atau pengalaman yang tersimpan dalam pikiran dan dapat diaktifkan ketika seseorang menghadapi informasi baru.
Contohnya, siswa yang sudah mengetahui tentang gunung akan lebih mudah membangun pemahaman ketika membaca artikel tentang pendakian gunung.
Ketika menemukan kata seperti “puncak”, “lereng”, “jalur pendakian”, atau “peralatan”, siswa dapat menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
Dalam model top-down, skema sangat membantu pembaca membuat prediksi.
Dalam model interaktif, skema berinteraksi dengan informasi yang diperoleh dari teks.
Karena itu, pembelajaran membaca sebaiknya tidak hanya mengajarkan siswa untuk membaca teks secara langsung. Guru juga perlu mengaktifkan pengetahuan awal siswa.
Penerapan Model Membaca dalam Pembelajaran
Model-model membaca dapat diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.
Misalnya guru ingin mengajarkan teks eksplanasi dengan topik “Proses Terjadinya Hujan.”
Tahap pertama: Mengaktifkan pengetahuan awal
Guru mengajukan pertanyaan:
Apa yang kalian ketahui tentang hujan?
Dari mana air hujan berasal?
Mengapa awan bisa menghasilkan hujan?
Pernahkah kalian melihat hujan sangat deras?
Tahap ini berkaitan erat dengan penggunaan pengetahuan awal atau skema.
Tahap kedua: Mengenali informasi teks
Siswa membaca teks dan memperhatikan istilah seperti:
penguapan;
uap air;
kondensasi;
awan;
presipitasi.
Pada tahap ini, kemampuan bottom-up diperlukan karena siswa harus memahami unsur bahasa dan kosakata yang digunakan dalam teks.
Tahap ketiga: Membuat prediksi
Sebelum menyelesaikan bacaan, siswa dapat memperkirakan proses berikutnya berdasarkan informasi yang sudah dibaca.
Kegiatan ini memanfaatkan prinsip top-down.
Tahap keempat: Menghubungkan informasi
Siswa menghubungkan pengetahuan awal dengan informasi yang terdapat dalam teks.
Tahap ini menggambarkan penggunaan model interaktif.
Tahap kelima: Menyimpulkan
Setelah selesai membaca, siswa menyusun kembali informasi mengenai proses terjadinya hujan menggunakan bahasa mereka sendiri.
Kegiatan ini membantu memastikan bahwa membaca tidak berhenti pada pengenalan kata, tetapi sampai pada pemahaman.
Model Membaca untuk Siswa SD
Pada jenjang sekolah dasar, model membaca perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan siswa.
Pada kelas rendah, perhatian terhadap pengenalan huruf, bunyi, suku kata, dan kata masih sangat penting. Oleh karena itu, unsur pemrosesan bottom-up memiliki peranan yang kuat.
Namun, siswa kelas rendah tetap perlu dikenalkan pada pemahaman makna. Membaca tidak seharusnya hanya menjadi kegiatan mengucapkan tulisan.
Pada kelas tinggi, kegiatan membaca dapat dikembangkan ke arah pemahaman yang lebih kompleks.
Guru dapat meminta siswa:
memprediksi isi bacaan;
menghubungkan bacaan dengan pengalaman;
menemukan gagasan utama;
menemukan informasi tersurat;
menyimpulkan informasi tersirat;
membandingkan dua informasi;
memberikan tanggapan;
menjelaskan alasan berdasarkan teks.
Dengan demikian, model top-down dan interaktif dapat semakin banyak digunakan.
Model Membaca dan Kemampuan Membaca Pemahaman
Kemampuan membaca pemahaman tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengenali kata.
Pembaca perlu memahami hubungan antarbagian teks, menemukan gagasan utama, memahami informasi tersirat, menghubungkan informasi, dan mengevaluasi isi bacaan.
Subadiyono (2014) menekankan pentingnya kemampuan mengonstruksi makna dalam membaca. Membaca yang efektif tidak berhenti pada aktivitas berhadapan dengan teks, tetapi melibatkan proses membangun kembali dan memperluas makna.
Hal tersebut menunjukkan bahwa membaca merupakan aktivitas yang aktif.
Seorang pembaca yang baik bukan hanya mengetahui “apa yang dikatakan teks”, tetapi juga mampu memahami hubungan antaride dan menggunakan informasi tersebut untuk membangun pemahaman yang lebih luas.
Faktor yang Memengaruhi Keberhasilan Model Membaca
Keberhasilan proses membaca tidak hanya bergantung pada model yang digunakan.
Ada beberapa faktor lain yang ikut memengaruhi.
1. Pengetahuan Awal
Semakin relevan pengetahuan awal dengan topik bacaan, semakin banyak hubungan yang dapat dibuat pembaca.
2. Kosakata
Keterbatasan kosakata dapat menghambat pemahaman karena pembaca kesulitan memahami informasi yang disampaikan.
3. Tujuan Membaca
Membaca untuk mencari informasi tertentu tentu berbeda dengan membaca untuk memahami keseluruhan isi buku.
4. Motivasi
Pembaca yang memiliki motivasi biasanya lebih bersedia mencurahkan perhatian dan melakukan proses berpikir selama membaca.
5. Tingkat Kesulitan Teks
Teks yang terlalu sulit dapat membuat pembaca mengalami beban kognitif yang tinggi.
6. Pengetahuan tentang Struktur Teks
Pemahaman terhadap jenis teks membantu pembaca memperkirakan bagaimana informasi disusun.
7. Strategi Membaca
Pembaca membutuhkan strategi yang sesuai dengan tujuan, seperti membaca cepat untuk memperoleh gambaran umum atau membaca cermat untuk memahami informasi secara mendalam.
Cara Guru Memilih Model Membaca yang Tepat
Guru tidak harus memilih satu model dan menggunakannya sepanjang pembelajaran.
Pemilihan model dapat disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.
Jika tujuan pembelajaran adalah meningkatkan kemampuan mengenali kata dan memahami unsur kebahasaan, kegiatan yang berorientasi bottom-up dapat diberikan.
Jika tujuan pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan memprediksi dan menggunakan pengetahuan awal, kegiatan top-down dapat digunakan.
Jika tujuan pembelajaran adalah membangun pemahaman teks secara menyeluruh, guru dapat mengombinasikan keduanya melalui kegiatan interaktif.
Contohnya:
Sebelum membaca: siswa mengamati judul dan gambar serta membuat prediksi.
Saat membaca: siswa mengenali kosakata penting dan mencari informasi dalam teks.
Setelah membaca: siswa menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan awal dan menyusun kesimpulan.
Rangkaian tersebut membuat proses pembelajaran membaca menjadi lebih utuh.
Contoh Sederhana Penerapan Tiga Model Membaca
Misalnya siswa membaca teks berjudul:
“Manfaat Menanam Pohon di Lingkungan Sekolah.”
Bottom-Up
Siswa membaca kata demi kata, memahami kosakata seperti oksigen, lingkungan, teduh, dan polusi, kemudian memahami kalimat dan paragraf.
Top-Down
Sebelum membaca, siswa memperkirakan manfaat pohon berdasarkan pengalaman mereka.
Mereka mungkin memperkirakan bahwa pohon membuat udara lebih sejuk, menghasilkan oksigen, dan memperindah lingkungan.
Interaktif
Siswa membandingkan prediksi mereka dengan informasi dalam teks.
Jika ada informasi baru, mereka menghubungkannya dengan pengetahuan sebelumnya.
Dengan demikian, ketiga model dapat muncul dalam satu kegiatan membaca.
Kesimpulan
Model-model membaca membantu kita memahami bahwa membaca merupakan proses yang kompleks dan melibatkan interaksi antara teks, bahasa, pengetahuan, pengalaman, serta aktivitas berpikir.
Tiga model membaca yang banyak digunakan untuk menjelaskan proses tersebut adalah bottom-up, top-down, dan interaktif.
Model bottom-up memandang proses membaca dari unsur kecil menuju pemahaman yang lebih besar. Pembaca memberikan perhatian pada huruf, kata, frasa, kalimat, hingga teks.
Model top-down menempatkan pengetahuan awal, pengalaman, konteks, dan prediksi pembaca sebagai bagian penting dalam proses memahami bacaan.
Sementara itu, model interaktif menggabungkan pemrosesan dari teks dengan pengetahuan pembaca. Informasi dari kedua sumber tersebut digunakan secara saling melengkapi untuk membangun pemahaman.
Tidak ada satu model yang harus digunakan untuk semua situasi. Pembelajaran membaca yang baik justru dapat memanfaatkan berbagai model sesuai dengan karakteristik siswa, jenis teks, tujuan membaca, dan tingkat kesulitan materi.
Bagi guru, memahami model membaca penting karena dapat membantu merancang pembelajaran yang tidak hanya mengajarkan siswa “bisa membaca”, tetapi juga membantu mereka menjadi pembaca yang mampu memahami, menghubungkan, menafsirkan, dan menggunakan informasi dari bacaan.
Pada akhirnya, keberhasilan membaca bukan sekadar seberapa cepat seseorang menyelesaikan sebuah teks, melainkan seberapa baik ia mampu membangun makna dari apa yang dibacanya.
FAQ tentang Model-Model Membaca
Apa saja model-model membaca?
Tiga model membaca yang umum dibahas adalah bottom-up, top-down, dan interaktif.
Apa yang dimaksud dengan model membaca bottom-up?
Bottom-up adalah model membaca yang menjelaskan proses pemahaman dari unsur kecil menuju unsur yang lebih besar, misalnya dari huruf, kata, kalimat, paragraf, hingga pemahaman teks.
Apa yang dimaksud dengan model membaca top-down?
Top-down adalah model membaca yang menekankan penggunaan pengetahuan awal, pengalaman, konteks, dan prediksi pembaca untuk memahami teks.
Apa yang dimaksud dengan model membaca interaktif?
Model interaktif merupakan model yang memadukan pemrosesan informasi dari teks dengan pengetahuan yang dimiliki pembaca.
Apa hubungan model membaca dengan teori skema?
Teori skema menjelaskan pentingnya pengetahuan awal pembaca dalam memahami informasi baru. Konsep tersebut sangat berkaitan dengan model top-down dan juga berperan dalam model interaktif.
Model membaca mana yang cocok untuk siswa SD?
Penggunaannya perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan dan tujuan pembelajaran. Pada membaca permulaan, kemampuan yang berkaitan dengan bottom-up penting, sedangkan pada membaca pemahaman siswa dapat dilatih menggunakan strategi top-down dan interaktif.
Apakah model membaca sama dengan teknik membaca?
Tidak selalu. Model membaca merupakan kerangka teoretis yang menjelaskan bagaimana proses membaca berlangsung. Sementara teknik atau strategi membaca merupakan cara yang digunakan pembaca untuk mencapai tujuan tertentu, misalnya skimming, scanning, membaca intensif, atau membaca kritis.
Referensi
- Mulyati, Y. (n.d.). Modul 1: Model-model membaca. Universitas Terbuka.
- Subadiyono. (2014). Pembelajaran membaca. Noer Fikri Offset.
- Susanto, H. (2020). Reading theories and reading comprehension: Review and discussed. E-Structural (English Studies on Translation, Culture, Literature, and Linguistics), 2(2), 153–159. https://doi.org/10.33633/es.v2i2.3231
Thanks for reading Model-Model Membaca: Pengertian, Jenis, Teori Bottom-Up, Top-Down, dan Interaktif. Please share...!
0 Komentar untuk "Model-Model Membaca: Pengertian, Jenis, Teori Bottom-Up, Top-Down, dan Interaktif"