Sintaksis merupakan salah satu cabang ilmu bahasa yang penting untuk dipelajari karena berkaitan dengan cara kata-kata disusun menjadi satuan bahasa yang lebih besar dan bermakna. Ketika seseorang mengatakan “Ani membaca buku”, misalnya, makna kalimat tersebut tidak hanya ditentukan oleh arti kata Ani, membaca, dan buku secara terpisah. Hubungan dan susunan ketiga kata tersebut juga menentukan makna serta fungsi masing-masing unsur dalam kalimat.
Pembahasan mengenai sintaksis sangat luas. Di dalamnya terdapat pembahasan tentang frasa, klausa, kalimat, fungsi sintaksis, kategori sintaksis, peran sintaksis, alat-alat sintaksis, konstruksi sintaksis, hingga objek kajian sintaksis.
Materi sintaksis banyak dibutuhkan oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, guru Bahasa Indonesia, calon guru, peneliti bahasa, maupun pembaca umum yang ingin memahami bagaimana sebuah kalimat dibentuk.
Artikel ini membahas sintaksis secara lengkap mulai dari pengertian, sejarah perkembangan sintaksis di Indonesia, kedudukan sintaksis dalam linguistik, alat-alat sintaksis, konstruksi sintaksis, sampai objek yang menjadi kajian sintaksis.
Apa Itu Sintaksis?
Secara sederhana, sintaksis adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan dan pengaturan kata dalam membentuk satuan bahasa yang lebih besar.
Satuan tersebut dapat berupa frasa, klausa, kalimat, dan dalam beberapa pandangan juga mencakup wacana.
Setiawan dan Santoso menjelaskan bahwa sintaksis berkaitan dengan pengaturan dan hubungan antara kata dengan kata atau antara kata dengan satuan yang lebih besar. Dengan demikian, perhatian sintaksis tidak berhenti pada kata secara individual, tetapi melihat bagaimana unsur-unsur bahasa tersebut bergabung dan membentuk konstruksi yang memiliki fungsi serta makna tertentu.
Contohnya:
Budi membaca buku.
Kalimat tersebut terdiri atas beberapa unsur:
Budi sebagai subjek;
membaca sebagai predikat;
buku sebagai objek.
Jika susunan kata tersebut diubah menjadi:
Buku membaca Budi.
Konstruksi tersebut secara gramatikal menghasilkan hubungan yang berbeda dan tidak lazim untuk menyampaikan maksud yang sama.
Hal ini menunjukkan bahwa urutan dan hubungan antarkata mempunyai peranan penting dalam sintaksis.
Pengertian Sintaksis Menurut Para Ahli
Istilah sintaksis telah didefinisikan dengan berbagai cara oleh para ahli linguistik.
Menurut Kridalaksana sebagaimana dikutip dalam modul Sintaksis Bahasa Indonesia Universitas Terbuka, sintaksis merupakan cabang linguistik yang mempelajari pengaturan dan hubungan antara kata dengan kata maupun antara kata dengan satuan yang lebih besar. Sementara itu, Ramlan menjelaskan sintaksis sebagai cabang ilmu bahasa yang membicarakan seluk-beluk wacana, kalimat, klausa, dan frasa.
Dari beberapa pengertian tersebut dapat ditarik pemahaman bahwa sintaksis pada dasarnya membahas struktur dan hubungan satuan bahasa dalam konstruksi yang lebih besar.
Sintaksis tidak hanya bertanya:
“Apa arti kata ini?”
Pertanyaan tersebut lebih dekat dengan kajian leksikal atau semantik.
Sintaksis justru bertanya:
“Bagaimana kata ini ditempatkan?”
“Apa hubungannya dengan kata lain?”
“Apa fungsi kata tersebut dalam kalimat?”
“Mengapa perubahan susunan dapat mengubah struktur atau makna?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian penting dalam kajian sintaksis.
Sejarah Sintaksis di Indonesia
Sejarah sintaksis di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan tata bahasa Indonesia.
Kajian tata bahasa bahasa Indonesia pada awalnya banyak dipengaruhi oleh tradisi tata bahasa Eropa, terutama tradisi Yunani-Latin. Pada masa awal, tata bahasa Melayu—yang kemudian menjadi salah satu dasar perkembangan bahasa Indonesia—banyak ditulis oleh orang asing. Beberapa nama yang tercatat dalam sejarah tersebut antara lain Werndly dan Marsden.
Pada periode awal tersebut, pembahasan tata bahasa belum secara jelas memisahkan antara morfologi dan sintaksis seperti yang dikenal dalam linguistik modern. Perhatian besar masih diberikan kepada jenis kata dan pembentukan kata.
Perkembangan berikutnya ditandai oleh munculnya karya-karya tata bahasa yang semakin memberikan tempat kepada pembahasan struktur kalimat.
Beberapa tokoh dan karya yang berpengaruh dalam perkembangan tata bahasa Indonesia antara lain:
Ch. A. van Ophuijsen;
St. Mochamad Zain;
St. Takdir Alisjahbana;
Madong Lubis;
Poedjawijatna dan Zoetmulder;
Slametmuljana;
C. A. Mees;
Gorys Keraf;
M. Ramlan;
Harimurti Kridalaksana;
Hasan Alwi dan para penyusun Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa sintaksis Indonesia tidak muncul secara tiba-tiba. Kajian sintaksis berkembang seiring dengan perkembangan ilmu bahasa dan kebutuhan untuk menjelaskan struktur bahasa Indonesia secara lebih sistematis.
Salah satu perkembangan penting terjadi ketika pembahasan tata bahasa mulai membedakan antara morfologi dan sintaksis. Morfologi lebih berfokus pada struktur kata, sedangkan sintaksis membahas bagaimana kata-kata tersebut bergabung membentuk frasa, klausa, dan kalimat.
Pada tahun 1976, Pusat Pengembangan Bahasa menerbitkan Pedoman Penulisan Tatabahasa Indonesia. Dalam perkembangan berikutnya muncul berbagai model tata bahasa, antara lain model tradisional, struktural, dan transformasional. Pada 1981, M. Ramlan menerbitkan Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis, sedangkan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia karya Hasan Alwi dkk. pertama kali terbit pada 1988.
Sejarah tersebut memperlihatkan bahwa kajian sintaksis bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti perkembangan teori linguistik.
Kedudukan Sintaksis dalam Ilmu Bahasa
Sintaksis merupakan salah satu cabang dalam ilmu linguistik.
Dalam kajian linguistik, terdapat beberapa bidang yang saling berhubungan, antara lain:
fonologi;
morfologi;
sintaksis;
semantik;
pragmatik.
Masing-masing mempunyai fokus kajian yang berbeda.
Fonologi berkaitan dengan bunyi bahasa.
Morfologi berkaitan dengan struktur dan pembentukan kata.
Sintaksis berkaitan dengan hubungan kata dalam membentuk satuan yang lebih besar.
Semantik berkaitan dengan makna.
Sementara itu, pragmatik banyak membahas makna bahasa dalam kaitannya dengan konteks penggunaan.
Sintaksis mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan morfologi. Keduanya bahkan sering ditempatkan sebagai bagian dari tata bahasa.
Perbedaannya dapat digambarkan secara sederhana:
Morfologi → bagaimana kata dibentuk.
Sintaksis → bagaimana kata digabungkan.
Contohnya kata tulis dapat mengalami proses morfologis menjadi:
menulis;
ditulis;
tulisan;
penulis;
penulisan.
Proses tersebut terutama menjadi perhatian morfologi.
Namun ketika kata tersebut digunakan dalam kalimat:
Siswa menulis cerita.
Sintaksis melihat hubungan antara siswa, menulis, dan cerita.
Dengan demikian, morfologi dan sintaksis memang berbeda, tetapi keduanya saling berhubungan.
Setiawan dan Santoso menjelaskan bahwa kata merupakan satuan terbesar dalam kajian morfologi, tetapi menjadi satuan terkecil dalam kajian sintaksis.
Mengapa Sintaksis Penting Dipelajari?
Sintaksis bukan hanya materi untuk mahasiswa linguistik.
Pemahaman sintaksis berguna dalam kehidupan sehari-hari karena manusia terus menggunakan kalimat untuk menyampaikan gagasan.
Sintaksis membantu kita:
menyusun kalimat secara jelas;
memahami hubungan antarunsur kalimat;
menghindari ketaksaan;
mengenali kesalahan struktur kalimat;
memahami pola kalimat;
menganalisis teks;
menulis secara lebih efektif;
memahami hubungan antara bentuk dan makna.
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, pemahaman sintaksis juga membantu siswa membangun kemampuan menulis.
Siswa yang memahami struktur kalimat akan lebih mudah menyusun gagasan menjadi kalimat yang jelas.
Alat-Alat Sintaksis
Salah satu bagian penting dalam pembahasan sintaksis adalah alat-alat sintaksis.
Alat sintaksis merupakan satuan bahasa atau cara yang digunakan untuk membentuk konstruksi sintaksis.
Dalam pembahasan Sintaksis Bahasa Indonesia, empat alat utama yang perlu diperhatikan adalah:
urutan kata;
bentuk kata;
intonasi;
kata tugas.
Keempatnya dapat memengaruhi struktur dan makna konstruksi bahasa.
1. Urutan Kata sebagai Alat Sintaksis
Urutan kata menunjukkan posisi suatu kata terhadap kata lain dalam konstruksi bahasa.
Dalam bahasa Indonesia, perubahan urutan kata dapat menyebabkan perubahan struktur atau bahkan perubahan makna.
Perhatikan contoh:
guru bahasa
dan:
bahasa guru
Kedua konstruksi tersebut tidak selalu mempunyai makna yang sama.
Contoh lain:
satu jam
dan:
jam satu
Keduanya mempunyai hubungan makna yang berbeda.
Dalam kalimat, urutan juga berperan penting.
Contoh:
Ibu memasak nasi.
Struktur tersebut dapat dianalisis sebagai:
S + P + O
yaitu:
Ibu + memasak + nasi.
Apabila susunan tersebut diubah, fungsi unsur dapat ikut berubah atau konstruksi yang dihasilkan menjadi tidak lazim.
Karena itu, urutan kata merupakan salah satu alat penting dalam membangun struktur sintaksis bahasa Indonesia.
2. Bentuk Kata sebagai Alat Sintaksis
Bentuk kata juga dapat memengaruhi hubungan sintaksis.
Perubahan bentuk kata dapat mengubah hubungan antara unsur-unsur dalam kalimat.
Contohnya:
Adik menanam bunga.
Kemudian:
Bunga ditanam adik.
Pada contoh pertama, adik berperan sebagai pelaku dalam konstruksi aktif.
Pada contoh kedua, bunga ditempatkan sebagai unsur yang dikenai tindakan dalam konstruksi pasif.
Perubahan menanam menjadi ditanam tidak hanya mengubah bentuk kata, tetapi juga berpengaruh terhadap struktur sintaksis kalimat.
Hal ini menunjukkan adanya hubungan erat antara morfologi dan sintaksis.
Perubahan bentuk kata tertentu dapat menghasilkan perubahan hubungan sintaksis.
3. Intonasi sebagai Alat Sintaksis
Dalam bahasa lisan, intonasi dapat membedakan jenis atau maksud sebuah kalimat.
Perhatikan:
Kamu sudah datang.
Kamu sudah datang?
Kamu sudah datang!
Secara leksikal, kata-katanya hampir sama. Namun intonasi dan konteks penggunaannya menghasilkan perbedaan fungsi komunikasi.
Kalimat pertama dapat digunakan sebagai pernyataan.
Kalimat kedua digunakan sebagai pertanyaan.
Kalimat ketiga dapat menunjukkan seruan.
Dalam bahasa tulis, perbedaan tersebut biasanya dibantu oleh tanda baca seperti titik, tanda tanya, dan tanda seru.
Dengan demikian, intonasi merupakan salah satu alat penting dalam konstruksi sintaksis, terutama dalam komunikasi lisan.
4. Kata Tugas sebagai Alat Sintaksis
Kata tugas merupakan unsur yang dapat membantu menghubungkan atau membentuk hubungan antara satu unsur dengan unsur lainnya.
Contoh kata tugas antara lain:
dan;
atau;
tetapi;
karena;
untuk;
dari;
ke;
di;
dengan;
kepada;
tentang.
Perhatikan:
Ayah dan Ibu.
Berbeda dengan:
Ayah atau Ibu.
Kata dan menunjukkan hubungan penambahan, sedangkan atau menunjukkan pilihan.
Contoh lainnya:
Ia pergi ke sekolah.
berbeda dengan:
Ia pulang dari sekolah.
Perbedaan kata tugas ke dan dari menghasilkan hubungan makna yang berbeda.
Dalam bahasa Indonesia, kata tugas mempunyai peranan penting dalam membangun berbagai struktur frasa, klausa, dan kalimat.
Apa yang Dimaksud dengan Konstruksi Sintaksis?
Konstruksi sintaksis adalah satuan bahasa bermakna yang dibentuk oleh unsur-unsur yang berhubungan secara sintaksis.
Konstruksi sintaksis dapat berupa:
frasa;
klausa;
kalimat;
dan, dalam pandangan tertentu, wacana.
Konstruksi tersebut tersusun secara bertingkat.
Secara sederhana:
kata → frasa → klausa → kalimat → wacana
Namun, hubungan tersebut tidak selalu sesederhana urutan tersebut karena sebuah konstruksi dapat mempunyai struktur yang kompleks.
Misalnya:
rumah besar
merupakan frasa.
Sementara:
rumah itu besar
merupakan klausa karena terdapat hubungan predikatif antara unsur rumah itu dan besar.
Frasa sebagai Konstruksi Sintaksis
Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang tidak membentuk hubungan predikatif.
Contohnya:
rumah besar;
siswa rajin;
buku baru;
sangat indah;
sedang belajar;
di sekolah.
Perhatikan:
rumah besar
Tidak ada hubungan subjek-predikat antara rumah dan besar dalam konstruksi tersebut.
Berbeda dengan:
Rumah itu besar.
Pada konstruksi tersebut terdapat hubungan predikatif.
Frasa dapat mengisi berbagai fungsi dalam kalimat, seperti subjek, predikat, objek, pelengkap, atau keterangan.
Contoh:
Siswa baru itu membaca buku.
Frasa siswa baru itu dapat mengisi fungsi subjek.
Klausa sebagai Konstruksi Sintaksis
Klausa merupakan konstruksi yang memiliki hubungan predikatif.
Secara sederhana, klausa biasanya memiliki subjek dan predikat, meskipun dalam penggunaan tertentu subjek dapat tidak dinyatakan secara eksplisit.
Contoh:
Adik tidur.
Adik = subjek
tidur = predikat
Contoh lain:
Ibu memasak nasi.
Ibu = subjek
memasak = predikat
nasi = objek
Klausa dapat menjadi bagian dari kalimat.
Contohnya:
Ibu memasak nasi ketika ayah membaca koran.
Kalimat tersebut memiliki dua klausa:
Ibu memasak nasi.
Ayah membaca koran.
Kedua klausa tersebut kemudian dihubungkan menjadi konstruksi yang lebih besar.
Kalimat sebagai Konstruksi Sintaksis
Kalimat merupakan salah satu objek penting dalam sintaksis.
Kalimat dapat dipahami sebagai satuan bahasa yang mempunyai struktur gramatikal dan dapat digunakan untuk menyampaikan pikiran atau maksud yang relatif lengkap.
Dalam komunikasi lisan, kalimat juga berkaitan dengan intonasi dan kesenyapan.
Karena itu, panjang kalimat tidak hanya ditentukan oleh jumlah kata.
Kalimat:
Pergi!
hanya terdiri atas satu kata, tetapi dapat berfungsi sebagai kalimat karena memiliki makna dan intonasi final.
Sebaliknya, kalimat yang panjang dapat terdiri atas beberapa klausa.
Contohnya:
Ketika hujan turun, para siswa tetap belajar di dalam kelas karena kegiatan olahraga harus ditunda.
Kalimat tersebut memiliki lebih dari satu konstruksi klausal.
Dengan demikian, jumlah kata bukan satu-satunya penentu sebuah kalimat.
Wacana dalam Kaitannya dengan Sintaksis
Wacana merupakan satuan bahasa yang lebih besar dan biasanya terdiri atas beberapa kalimat yang saling berhubungan.
Contohnya sebuah artikel, paragraf, berita, atau percakapan panjang.
Dalam kajian linguistik, terdapat perbedaan pandangan mengenai apakah wacana termasuk objek sintaksis.
Sebagian ahli memasukkan wacana sebagai satuan yang berada pada tataran sintaksis, sedangkan sebagian lainnya memandang wacana sebagai bidang kajian tersendiri yang berada di atas sintaksis.
Perbedaan tersebut penting dipahami agar pembelajar tidak menganggap batas bidang linguistik selalu mutlak.
Objek Kajian Sintaksis
Lalu, apa sebenarnya objek sintaksis?
Secara umum, objek kajian sintaksis mencakup:
frasa;
klausa;
kalimat;
dan dalam pandangan tertentu wacana.
Yang dikaji bukan hanya bentuknya, tetapi juga hubungan antarkomponen dan makna yang muncul dari hubungan tersebut.
Sintaksis dapat mengkaji pertanyaan seperti:
Mengapa kata tertentu berada pada posisi tertentu?
Apa fungsi unsur tersebut?
Bagaimana hubungan antarunsurnya?
Mengapa suatu susunan dianggap gramatikal?
Mengapa susunan lain terasa tidak tepat?
Bagaimana perubahan struktur menghasilkan perbedaan makna?
Fungsi Sintaksis
Dalam analisis kalimat bahasa Indonesia, beberapa fungsi yang sering digunakan adalah:
Subjek (S)
Predikat (P)
Objek (O)
Pelengkap (Pel)
Keterangan (K)
Contohnya:
Siswa membaca buku di perpustakaan.
Analisis sederhananya:
Siswa = Subjek
membaca = Predikat
buku = Objek
di perpustakaan = Keterangan
Fungsi sintaksis menunjukkan posisi atau tugas suatu unsur dalam konstruksi.
Namun, fungsi tidak sama dengan kategori kata.
Misalnya, subjek dapat diisi oleh nomina atau frasa nominal.
Contoh:
Anak itu membaca.
Anak itu merupakan frasa nominal yang mengisi fungsi subjek.
Kategori Sintaksis
Selain fungsi, sintaksis juga membahas kategori.
Kategori berkaitan dengan jenis unsur bahasa yang mengisi fungsi tertentu.
Kategori yang umum antara lain:
nomina;
verba;
adjektiva;
adverbia;
numeralia;
pronomina;
preposisi;
dan kategori lainnya.
Contoh:
Rina membaca novel.
Rina = nomina, mengisi fungsi subjek.
membaca = verba, mengisi fungsi predikat.
novel = nomina, mengisi fungsi objek.
Dari contoh tersebut terlihat bahwa fungsi dan kategori merupakan dua hal yang berbeda.
Nomina dapat mengisi fungsi subjek maupun objek.
Peran Sintaksis
Selain fungsi dan kategori, analisis sintaksis juga dapat melihat peran.
Peran berkaitan dengan hubungan makna yang dimainkan oleh unsur dalam konstruksi.
Contohnya:
Ayah membeli sepeda.
Ayah dapat dipahami sebagai pelaku tindakan membeli.
Sepeda merupakan sesuatu yang dikenai atau menjadi sasaran tindakan tersebut.
Dalam analisis tertentu, peran dapat berupa pelaku, sasaran, penerima, alat, tempat, dan sebagainya.
Dengan demikian, analisis sintaksis dapat melihat tiga aspek penting:
Fungsi + Kategori + Peran
Ketiganya membantu menghasilkan analisis kalimat yang lebih lengkap.
Hubungan Sintaksis dan Semantik
Sintaksis tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari makna.
Perubahan susunan atau bentuk dapat menyebabkan perbedaan interpretasi.
Contohnya:
Rina memukul Dita.
dan:
Dita memukul Rina.
Kata-kata yang digunakan hampir sama, tetapi perubahan susunan menghasilkan perubahan hubungan peran.
Dalam kalimat pertama, Rina menjadi pelaku tindakan dan Dita menjadi sasaran.
Dalam kalimat kedua, hubungan tersebut berubah.
Artinya, struktur sintaksis mempunyai kontribusi terhadap interpretasi makna.
Setiawan dan Santoso juga menunjukkan bahwa satuan gramatik memiliki aspek bentuk dan makna, sehingga kajian sintaksis dapat memperhatikan hubungan bentuk sekaligus makna dalam konstruksi.
Contoh Analisis Sintaksis Sederhana
Mari kita analisis kalimat:
Siswa rajin membaca buku di perpustakaan.
Konstruksi tersebut dapat dianalisis secara sederhana:
S = Siswa rajin
P = membaca
O = buku
K = di perpustakaan
Jika dilihat dari kategori:
Siswa rajin = frasa nominal;
membaca = verba;
buku = nomina;
di perpustakaan = frasa preposisional.
Jika dilihat dari peran:
siswa = pelaku;
membaca = tindakan;
buku = sasaran;
di perpustakaan = tempat.
Analisis seperti ini menunjukkan bahwa satu kalimat dapat dilihat dari beberapa sudut.
Perbedaan Sintaksis dan Morfologi
Banyak mahasiswa atau siswa yang masih kesulitan membedakan sintaksis dan morfologi.
Cara mudah membedakannya adalah:
Morfologi bertanya:
Bagaimana sebuah kata dibentuk?
Contoh:
ajar → belajar → mengajar → pelajar → pengajaran
Sintaksis bertanya:
Bagaimana kata tersebut digunakan bersama kata lain?
Contoh:
Guru mengajar siswa.
Dalam contoh tersebut, sintaksis melihat hubungan guru, mengajar, dan siswa.
Jadi:
Morfologi berfokus pada struktur kata.
Sintaksis berfokus pada hubungan kata dalam konstruksi yang lebih besar.
Meskipun demikian, kedua bidang tersebut saling berhubungan erat.
Perbedaan Sintaksis dan Semantik
Sintaksis dan semantik juga sering dianggap sama karena keduanya berkaitan dengan makna.
Perbedaannya dapat dibuat sederhana.
Sintaksis terutama melihat bagaimana unsur bahasa disusun dan berhubungan.
Semantik terutama mengkaji makna.
Contohnya:
Anak itu membaca buku.
Sintaksis dapat membahas bahwa:
Anak itu = subjek;
membaca = predikat;
buku = objek.
Semantik dapat membahas makna kata anak, membaca, dan buku, serta makna yang muncul dari konstruksi tersebut.
Jadi keduanya berbeda, tetapi saling melengkapi.
Manfaat Mempelajari Sintaksis bagi Guru dan Siswa
Pemahaman sintaksis memberikan manfaat yang cukup besar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
1. Membantu Menulis Kalimat yang Baik
Siswa dapat memahami cara menyusun kata menjadi kalimat yang jelas.
2. Membantu Menganalisis Kalimat
Guru dan siswa dapat mengetahui fungsi setiap unsur dalam kalimat.
3. Membantu Menghindari Kesalahan Struktur
Pemahaman sintaksis membantu mengenali susunan kalimat yang tidak efektif atau ambigu.
4. Membantu Memahami Bacaan
Struktur kalimat yang kompleks sering menjadi salah satu tantangan dalam membaca.
Dengan memahami hubungan antarkomponen kalimat, pembaca dapat lebih mudah memahami informasi.
5. Membantu Pembelajaran Menulis
Guru dapat memberikan pembelajaran yang lebih sistematis mengenai kalimat sederhana dan kalimat kompleks.
6. Membantu Penelitian Bahasa
Sintaksis menjadi dasar bagi penelitian mengenai kalimat, frasa, klausa, struktur teks, dan variasi bahasa.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Mempelajari Sintaksis
Ada beberapa kesalahan umum yang perlu dihindari.
Pertama, menganggap sintaksis hanya mempelajari kalimat.
Padahal, kajian sintaksis juga mencakup frasa dan klausa, sementara wacana termasuk dalam sintaksis menurut sebagian pandangan.
Kedua, menyamakan fungsi dengan kategori.
Subjek bukanlah kategori kata. Subjek merupakan fungsi, sedangkan nomina merupakan salah satu kategori yang dapat mengisi fungsi tersebut.
Ketiga, menganggap semua kelompok kata sebagai frasa.
Kelompok kata yang mempunyai hubungan predikatif dapat berupa klausa, bukan sekadar frasa.
Keempat, mengabaikan makna.
Analisis sintaksis tidak hanya memperhatikan bentuk, tetapi juga dapat memperhatikan hubungan makna yang muncul dalam konstruksi.
Kelima, hanya menghafal pola.
Belajar sintaksis sebaiknya tidak berhenti pada hafalan S-P-O-K. Yang lebih penting adalah memahami mengapa suatu unsur mempunyai fungsi tertentu dan bagaimana hubungan antarunsur membentuk makna.
Cara Mudah Belajar Sintaksis
Bagi pemula, sintaksis memang dapat terasa sulit karena terdapat banyak istilah.
Cara belajar yang lebih mudah adalah mulai dari contoh konkret.
Langkah 1: Kenali kata
Contoh:
Ani membaca buku.
Kenali setiap kata terlebih dahulu.
Langkah 2: Gabungkan menjadi frasa
Contoh:
buku baru
rumah besar
Langkah 3: Kenali klausa
Contoh:
Ani membaca.
Ada subjek dan predikat.
Langkah 4: Kenali fungsi
Ani membaca buku.
S + P + O.
Langkah 5: Kenali kategori
Ani = nomina.
membaca = verba.
buku = nomina.
Langkah 6: Kenali peran
Ani = pelaku.
membaca = tindakan.
buku = sasaran.
Dengan latihan bertahap seperti ini, konsep sintaksis menjadi lebih mudah dipahami.
Kesimpulan
Sintaksis adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari pengaturan dan hubungan kata dengan kata atau satuan bahasa yang lebih besar dalam membentuk konstruksi yang bermakna.
Kajian sintaksis sangat penting dalam memahami bagaimana frasa, klausa, dan kalimat dibentuk.
Dalam sejarahnya, kajian sintaksis bahasa Indonesia berkembang bersama perkembangan tata bahasa Indonesia. Pada masa awal, tata bahasa Melayu banyak dipengaruhi tradisi Yunani-Latin dan karya-karya tata bahasa yang ditulis oleh ahli asing. Selanjutnya, kajian tata bahasa berkembang melalui berbagai tokoh Indonesia dan berbagai pendekatan linguistik hingga menghasilkan deskripsi bahasa Indonesia yang semakin sistematis.
Dalam linguistik, sintaksis mempunyai kedudukan sebagai salah satu cabang ilmu bahasa dan memiliki hubungan erat dengan fonologi, morfologi, semantik, serta bidang linguistik lainnya.
Sintaksis juga menggunakan sejumlah alat sintaksis, terutama:
urutan kata;
bentuk kata;
intonasi;
kata tugas.
Keempat alat tersebut dapat digunakan untuk membentuk dan membedakan berbagai konstruksi bahasa.
Sementara itu, konstruksi sintaksis dapat berupa frasa, klausa, kalimat, dan dalam pandangan tertentu wacana.
Objek kajian sintaksis tidak hanya melihat bentuk konstruksi, tetapi juga hubungan antarkomponen dan aspek maknanya.
Karena itu, mempelajari sintaksis sebenarnya berarti belajar memahami bagaimana kata-kata bekerja bersama untuk membentuk pesan yang dapat dipahami manusia.
Bagi siswa, sintaksis dapat membantu meningkatkan kemampuan membaca dan menulis. Bagi guru, sintaksis menjadi dasar penting dalam mengajarkan struktur kalimat. Bagi mahasiswa dan peneliti, sintaksis menjadi salah satu bidang penting untuk memahami sistem bahasa secara lebih mendalam.
Dengan memahami sintaksis, kita tidak hanya mengetahui bahwa sebuah kalimat terdiri atas beberapa kata, tetapi juga memahami mengapa kata-kata tersebut disusun dengan cara tertentu, bagaimana hubungannya, apa fungsinya, dan bagaimana susunan tersebut menghasilkan makna.
FAQ tentang Sintaksis
Apa yang dimaksud dengan sintaksis?
Sintaksis adalah cabang linguistik yang mempelajari hubungan dan pengaturan kata dalam membentuk frasa, klausa, kalimat, dan konstruksi bahasa yang lebih besar.
Apa saja objek kajian sintaksis?
Objek kajian sintaksis terutama meliputi frasa, klausa, dan kalimat. Dalam beberapa pandangan, wacana juga termasuk dalam cakupan sintaksis.
Apa saja alat-alat sintaksis?
Alat sintaksis yang umum dibahas dalam bahasa Indonesia adalah urutan kata, bentuk kata, intonasi, dan kata tugas.
Apa perbedaan morfologi dan sintaksis?
Morfologi mempelajari struktur dan pembentukan kata, sedangkan sintaksis mempelajari bagaimana kata-kata bergabung membentuk frasa, klausa, dan kalimat.
Apa itu konstruksi sintaksis?
Konstruksi sintaksis adalah satuan bahasa bermakna yang dibentuk melalui hubungan antarkomponen secara sintaksis, seperti frasa, klausa, dan kalimat.
Mengapa sintaksis penting dipelajari?
Sintaksis membantu memahami struktur kalimat, menyusun kalimat yang jelas, menganalisis teks, meningkatkan kemampuan menulis, serta memahami hubungan antara struktur bahasa dan makna.
Apa hubungan sintaksis dengan semantik?
Sintaksis berfokus pada struktur dan hubungan antarunsur, sedangkan semantik berfokus pada makna. Keduanya saling berhubungan karena perubahan struktur dapat memengaruhi interpretasi makna.
Apakah sintaksis hanya mempelajari kalimat?
Tidak. Sintaksis juga membahas frasa dan klausa, serta dalam pandangan tertentu wacana. Kalimat memang menjadi salah satu objek utama dalam kajian sintaksis.
Apa contoh sederhana sintaksis?
Kalimat “Siswa membaca buku” dapat dianalisis menjadi S-P-O. Siswa berfungsi sebagai subjek, membaca sebagai predikat, dan buku sebagai objek. Analisis tersebut merupakan salah satu contoh kajian sintaksis.
Referensi
Noortyani, R. (2017). Buku ajar sintaksis. Penebar Pustaka Media. Repositori Universitas Lambung Mangkurat mencatat buku ini sebagai karya Rusma Noortyani yang diterbitkan di Yogyakarta pada 2017.
Setiawan, T., & Santoso, J. (2014). Sintaksis Bahasa Indonesia: Kedudukan dan ruang lingkup sintaksis. Universitas Terbuka. Modul ini secara khusus membahas pengertian dan sejarah sintaksis, kedudukan dan alat-alat sintaksis, serta konstruksi dan objek sintaksis.
Yendra. (2016). Mengenal ilmu bahasa (linguistik). Deepublish. Buku ini merupakan bahan pengantar linguistik yang disusun dalam konteks pendidikan bahasa dan membahas berbagai cabang ilmu bahasa.
Thanks for reading Sintaksis: Pengertian, Sejarah, Kedudukan, Alat-Alat, Konstruksi, dan Objek Kajian. Please share...!
0 Komentar untuk "Sintaksis: Pengertian, Sejarah, Kedudukan, Alat-Alat, Konstruksi, dan Objek Kajian"