Menyusun materi pembelajaran Bahasa Indonesia membutuhkan ketelitian. Bukan hanya isi yang harus benar, tetapi juga penggunaan kata, ejaan, tanda baca, struktur kalimat, serta cara penyampaian perlu diperhatikan. Kesalahan kecil dalam penulisan dapat membuat materi menjadi kurang jelas dan bahkan berpotensi menimbulkan salah pemahaman bagi siswa.
Di tengah perkembangan teknologi pendidikan, guru kini memiliki lebih banyak pilihan untuk membantu proses penyuntingan tulisan. Berbagai tools AI untuk menulis dan memeriksa teks dapat digunakan untuk menemukan kesalahan tata bahasa, memperbaiki struktur kalimat, menyederhanakan tulisan, hingga membantu melihat kemiripan suatu teks.
Namun, teknologi sebaiknya tidak ditempatkan sebagai pengganti guru. AI lebih tepat digunakan sebagai asisten penyuntingan. Guru tetap perlu membaca ulang hasil koreksi, mempertimbangkan konteks pembelajaran, dan memastikan bahwa materi sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang berlaku.
Selain itu, tidak semua aplikasi yang populer untuk bahasa Inggris memberikan hasil yang sama ketika digunakan untuk Bahasa Indonesia. Karena itu, pemilihan alat perlu dilakukan secara lebih hati-hati.
Berikut tujuh tools yang dapat dipertimbangkan untuk membantu proses penulisan dan penyuntingan materi pembelajaran.
1. Trinka AI untuk Membantu Penyuntingan Tulisan Formal
Trinka AI merupakan salah satu alat bantu penulisan berbasis AI yang dirancang terutama untuk penulisan akademik, teknis, dan formal. Platform ini menyediakan sejumlah fitur yang berkaitan dengan pemeriksaan tata bahasa, penyuntingan, penulisan ulang, pemeriksaan plagiarisme, hingga bantuan sitasi.
Bagi guru atau tenaga kependidikan, Trinka dapat digunakan ketika sedang menyiapkan dokumen yang membutuhkan gaya bahasa formal, misalnya artikel pendidikan, laporan kegiatan, modul, bahan pelatihan, atau naskah akademik.
Cara menggunakan Trinka AI
Secara umum, langkah penggunaannya cukup sederhana:
Buka situs Trinka AI.
Buat akun atau masuk ke akun yang tersedia.
Masukkan teks yang ingin diperiksa.
Gunakan fitur pemeriksaan atau penyuntingan yang sesuai.
Baca setiap saran yang diberikan.
Tentukan sendiri apakah perubahan tersebut memang sesuai dengan konteks tulisan.
Hal penting yang perlu diperhatikan adalah jangan menerima semua saran AI secara otomatis. Kalimat yang dianggap lebih baik oleh sistem belum tentu paling tepat untuk karakteristik siswa atau tujuan pembelajaran.
Misalnya, materi untuk siswa sekolah dasar tentu membutuhkan bahasa yang lebih sederhana dibandingkan artikel untuk guru atau mahasiswa. Karena itu, hasil penyuntingan AI tetap harus disesuaikan oleh penulis.
Trinka sendiri menjelaskan bahwa layanannya ditujukan untuk membantu menghasilkan tulisan yang lebih formal, ringkas, jelas, dan efektif.
2. EYD dan Sipebi untuk Memeriksa Penulisan Bahasa Indonesia
Untuk materi yang benar-benar berbahasa Indonesia, guru sebaiknya tidak hanya mengandalkan AI umum. Salah satu rujukan penting adalah Ejaan yang Disempurnakan (EYD) Edisi V yang diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
EYD Edisi V ditetapkan melalui keputusan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa pada 2022. Pedoman tersebut menjadi rujukan dalam penggunaan ejaan Bahasa Indonesia.
Hal ini penting karena materi awal sering menyebut istilah "PUEBI Checker Kemdikbud". Penyebutan tersebut sebaiknya diperbarui. Saat ini rujukan resmi yang relevan adalah EYD Edisi V, sedangkan Badan Bahasa juga menyediakan Sipebi, yaitu aplikasi penyuntingan ejaan Bahasa Indonesia.
Sipebi memiliki fungsi untuk membantu memperbaiki atau menyunting teks Bahasa Indonesia secara otomatis. Aplikasi tersebut menggunakan pangkalan data KBBI termutakhir serta masukan ahli bahasa sebagai salah satu basisnya.
Apa yang dapat dilakukan dengan Sipebi?
Guru dapat memanfaatkannya untuk membantu memeriksa naskah sebelum materi diberikan kepada siswa.
Contohnya:
bahan ajar;
modul pembelajaran;
lembar kerja peserta didik;
pengumuman sekolah;
artikel literasi;
naskah soal;
materi presentasi;
teks bacaan siswa.
Alur sederhananya adalah menyiapkan teks, memasukkannya ke alat penyuntingan, melihat bagian yang ditandai, kemudian melakukan pemeriksaan kembali secara manual.
Kelebihan pendekatan ini adalah guru tidak hanya mendapatkan bantuan teknologi, tetapi juga tetap menggunakan rujukan kebahasaan resmi Indonesia.
3. KBBI Daring untuk Memastikan Ketepatan Kata
Kesalahan dalam materi pembelajaran tidak selalu berupa salah ketik. Kadang-kadang persoalannya adalah penggunaan kata yang kurang tepat atau penulis tidak yakin apakah sebuah kata tercantum dalam kamus.
Untuk kebutuhan tersebut, guru dapat menggunakan KBBI Daring.
KBBI VI Daring merupakan laman resmi pencarian kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikelola oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
KBBI Daring bukan sekadar alat pemeriksa otomatis. Fungsinya lebih sebagai rujukan untuk memeriksa kosakata dan makna kata.
Misalnya, ketika guru ingin menggunakan sebuah istilah dalam modul, guru dapat mencari kata tersebut terlebih dahulu. Dari hasil pencarian, guru dapat mempelajari makna dan informasi kebahasaan yang tersedia.
Ini sangat berguna ketika membuat materi yang ditujukan kepada siswa karena pemilihan kata perlu mempertimbangkan dua hal sekaligus: ketepatan bahasa dan tingkat pemahaman pembaca.
KBBI juga terus mengalami pemutakhiran. Pada April 2026, misalnya, KBBI Daring mengalami pembaruan dengan penambahan entri dan makna serta berbagai perubahan lainnya.
Cara memanfaatkan KBBI Daring
Guru dapat menerapkan langkah berikut:
Temukan kata yang diragukan.
Cari kata tersebut di KBBI Daring.
Baca arti dan informasi yang tersedia.
Bandingkan dengan konteks kalimat.
Pilih kata yang paling sesuai dengan tujuan materi.
Dengan cara ini, teknologi tidak hanya digunakan untuk "membetulkan tulisan", tetapi juga untuk meningkatkan ketelitian guru dalam memilih kosakata.
4. LanguageTool sebagai Bantuan Pemeriksaan Bahasa
LanguageTool dikenal sebagai alat bantu pemeriksaan tulisan yang dapat digunakan melalui berbagai perangkat dan integrasi. Namun, guru perlu memperhatikan bahasa yang benar-benar didukung oleh versi dan fitur yang sedang digunakan.
Informasi dukungan bahasa dapat berubah seiring pembaruan layanan. Karena itu, sebelum memasukkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemeriksaan, sebaiknya pengguna mengecek daftar bahasa yang tersedia pada versi LanguageTool yang digunakan. Informasi resmi LanguageTool yang diperbarui pada 2026, misalnya, mencantumkan daftar bahasa yang didukung untuk versi gratis dan menjelaskan bahwa dukungan berbeda menurut bahasa dan jenis pemeriksaan.
LanguageTool dapat dipertimbangkan sebagai alat bantu tambahan, khususnya apabila guru juga membuat materi dalam bahasa lain.
Yang perlu diingat, alat pemeriksa grammar bukanlah satu-satunya standar kebenaran Bahasa Indonesia. Untuk aspek ejaan Bahasa Indonesia, rujukan seperti EYD dan KBBI tetap penting.
Mengapa guru perlu melakukan pemeriksaan ulang?
Sistem otomatis bekerja berdasarkan aturan dan pola tertentu. Sementara itu, bahasa mempunyai konteks.
Satu kata dapat memiliki fungsi yang berbeda dalam kalimat tertentu. Sebuah kalimat yang secara struktur terlihat benar belum tentu cocok untuk usia pembaca. Karena itu, guru tetap menjadi pihak yang menentukan apakah sebuah perubahan memang layak diterapkan.
5. Plagiarism Checker untuk Memeriksa Kemiripan Teks
Selain kesalahan ejaan dan tata bahasa, persoalan lain yang perlu diperhatikan ketika membuat materi adalah kemiripan teks dengan sumber lain.
Berbagai aplikasi pemeriksa plagiarisme dapat membantu memberikan gambaran mengenai bagian tulisan yang memiliki kemiripan dengan sumber tertentu. Contohnya adalah Plagiarism Checker X dan berbagai layanan pemeriksaan kemiripan lainnya.
Namun, hasil pemeriksaan kemiripan tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti bahwa seseorang melakukan plagiarisme.
Kemiripan dapat muncul karena berbagai alasan. Misalnya, nama lembaga, istilah teknis, definisi, judul peraturan, atau frasa umum memang sulit diubah tanpa menghilangkan makna.
Oleh sebab itu, laporan similarity sebaiknya digunakan sebagai bahan pemeriksaan lanjutan.
Cara menggunakannya secara bijak
Guru dapat melakukan langkah berikut:
Siapkan dokumen yang akan diperiksa.
Masukkan atau unggah teks ke layanan pemeriksaan.
Jalankan proses pengecekan.
Perhatikan bagian yang memiliki kemiripan.
Telusuri sumber yang ditunjukkan.
Pastikan bagian yang mengambil gagasan dari sumber telah ditulis ulang atau dikutip dengan benar.
Cantumkan sumber sesuai kebutuhan.
Dengan pola tersebut, plagiarism checker berfungsi sebagai alat bantu menjaga integritas akademik, bukan sebagai mesin yang menentukan apakah sebuah tulisan pasti plagiarisme.
6. Google Docs untuk Menulis dan Menyunting Secara Kolaboratif
Google Docs juga dapat menjadi bagian dari alur kerja penyusunan materi pembelajaran.
Google Docs memungkinkan guru membuat dokumen secara daring dan melakukan penyuntingan tanpa harus terus-menerus bertukar file secara manual.
Keunggulan terbesar Google Docs bukan hanya pada pemeriksaan tulisan, tetapi pada kolaborasi.
Misalnya, seorang guru membuat materi pembelajaran kemudian meminta rekan guru untuk memberikan komentar. Bagian yang perlu diperbaiki dapat ditandai langsung di dalam dokumen.
Model seperti ini sangat berguna dalam pembuatan:
modul sekolah;
buku panduan;
bahan literasi;
perangkat pembelajaran;
naskah kegiatan;
artikel sekolah;
dokumen administrasi.
Guru juga dapat memanfaatkan riwayat perubahan untuk melihat proses penyuntingan dokumen.
Dengan demikian, proses menulis tidak harus selesai dalam satu tahap. Naskah dapat melalui beberapa putaran: menulis → memeriksa → mendapatkan masukan → memperbaiki → membaca ulang → menerbitkan.
Pola tersebut sebenarnya lebih aman daripada mengandalkan satu kali pemeriksaan otomatis.
7. QuillBot untuk Membantu Menyusun Ulang Kalimat
QuillBot merupakan salah satu alat bantu penulisan yang menyediakan fitur parafrase atau penyusunan ulang kalimat.
Dalam konteks pendidikan, fitur semacam ini dapat berguna ketika guru memiliki kalimat yang terlalu panjang dan ingin mencari alternatif struktur kalimat.
Akan tetapi, parafrase AI perlu digunakan dengan hati-hati.
Mengubah beberapa kata dalam sebuah kalimat tidak otomatis membuat sebuah tulisan menjadi bebas plagiarisme. Jika gagasan berasal dari sumber tertentu, sumber tersebut tetap perlu dihargai dan dicantumkan sesuai kebutuhan.
Karena itu, fungsi utama alat parafrase sebaiknya diarahkan untuk membantu meningkatkan kejelasan tulisan, bukan untuk "mengakali" sistem pendeteksi plagiarisme.
Contohnya, guru mempunyai kalimat yang terlalu rumit untuk siswa. Alih-alih sekadar mengganti sinonim, guru dapat menggunakan hasil parafrase sebagai inspirasi, kemudian menulis ulang kalimat tersebut dengan gaya bahasa sendiri.
Setelah itu, guru perlu membaca hasil akhirnya dan memastikan makna tidak berubah.
Bagaimana Memilih Tools yang Tepat?
Tidak semua tulisan membutuhkan tujuh alat sekaligus. Justru penggunaan terlalu banyak aplikasi dapat membuat proses kerja menjadi tidak efisien.
Guru dapat membuat alur sederhana berdasarkan kebutuhan.
| Kebutuhan | Alat yang dapat dipertimbangkan |
|---|---|
| Memeriksa ejaan Bahasa Indonesia | EYD dan Sipebi |
| Memastikan arti atau keberadaan kata | KBBI Daring |
| Menyunting tulisan akademik/formal | Trinka AI |
| Memeriksa bahasa tertentu | LanguageTool, sesuai dukungan bahasa |
| Melihat kemiripan tulisan | Plagiarism checker |
| Menulis bersama rekan | Google Docs |
| Membantu menyusun ulang kalimat | QuillBot |
Dengan tabel tersebut, guru tidak perlu berpikir bahwa semua masalah penulisan harus diselesaikan menggunakan satu aplikasi.
Kombinasi Tools yang Lebih Efektif untuk Guru
Penggunaan tools akan lebih bermanfaat jika dibuat sebagai sebuah alur kerja.
Misalnya, ketika guru selesai membuat materi Bahasa Indonesia, tahap pertama adalah membaca isi dan memastikan informasi benar.
Tahap kedua adalah memeriksa kata yang meragukan melalui KBBI Daring.
Tahap ketiga adalah memeriksa ejaan menggunakan EYD dan bantuan Sipebi.
Tahap berikutnya adalah melakukan penyuntingan gaya bahasa. Jika naskah bersifat akademik atau formal, guru dapat menggunakan alat seperti Trinka sebagai bantuan tambahan.
Jika materi menggunakan gagasan atau informasi dari sumber lain, guru kemudian memeriksa kutipan dan sumbernya. Pemeriksaan kemiripan dapat dilakukan sebagai langkah tambahan.
Terakhir, naskah dibaca kembali oleh manusia.
Urutan tersebut penting karena AI tidak memahami tujuan pembelajaran secara sempurna. Guru mengetahui siapa peserta didiknya, kompetensi yang hendak dicapai, konteks sekolah, dan karakter materi.
Jangan Menjadikan AI sebagai Penentu Kebenaran
Salah satu kesalahan dalam menggunakan teknologi untuk menulis adalah menganggap bahwa semua rekomendasi AI pasti benar.
Padahal, AI adalah alat bantu.
Dalam penyuntingan Bahasa Indonesia, keputusan akhir tetap perlu mengacu pada sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Badan Bahasa sendiri menyediakan berbagai sumber kebahasaan, termasuk EYD, KBBI, serta bahan pembinaan bahasa.
Selain itu, penyuntingan tidak hanya berkaitan dengan ejaan. Pedoman Badan Bahasa menjelaskan bahwa penyuntingan dapat mencakup aspek kebahasaan seperti ejaan, diksi, dan kalimat, serta dapat menyentuh aspek nonkebahasaan seperti salah tik, data, fakta, dan penalaran.
Artinya, sebuah aplikasi mungkin dapat menemukan kesalahan tertentu, tetapi belum tentu dapat menilai apakah isi materi sudah benar dan cocok untuk siswa.
Tips Menggunakan AI untuk Menyusun Materi Pembelajaran
Agar penggunaan tools digital tidak justru menimbulkan masalah baru, guru dapat menerapkan beberapa prinsip berikut.
1. Tulis gagasan utama dengan kemampuan sendiri
AI sebaiknya digunakan setelah guru memiliki tujuan dan kerangka materi. Dengan begitu, teknologi membantu proses penyuntingan, bukan mengambil alih seluruh proses berpikir.
2. Periksa kembali setiap rekomendasi
Jangan langsung menerima semua perubahan. Baca kalimat sebelum dan sesudah diperbaiki.
3. Gunakan KBBI dan EYD sebagai rujukan
Untuk materi Bahasa Indonesia, rujukan resmi tetap penting. KBBI Daring merupakan laman resmi pencarian kata yang dikelola Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
4. Jangan menggunakan parafrase sebagai cara menyembunyikan sumber
Jika gagasan berasal dari orang lain, tetap cantumkan sumber. Parafrase adalah teknik penulisan, bukan penghapus kewajiban akademik.
5. Perhatikan usia dan kemampuan siswa
Materi yang benar secara tata bahasa belum tentu mudah dipahami siswa. Guru perlu menyesuaikan panjang kalimat, istilah, contoh, dan tingkat kesulitan.
6. Lindungi informasi yang bersifat sensitif
Sebelum mengunggah dokumen ke layanan daring, periksa apakah di dalamnya terdapat data pribadi siswa, informasi internal sekolah, atau informasi lain yang tidak seharusnya dibagikan ke layanan pihak ketiga.
7. Lakukan pemeriksaan akhir secara manual
Tahap terakhir sebaiknya selalu dilakukan oleh guru. Baca materi dari awal sampai akhir seolah-olah Anda adalah siswa yang akan menggunakannya.
Kesimpulan
Pemanfaatan AI dan berbagai tools digital dapat membantu guru membuat materi Bahasa Indonesia dengan lebih cepat dan terstruktur. Mulai dari pemeriksaan ejaan, pencarian kata, penyuntingan tulisan, pemeriksaan kemiripan, hingga kolaborasi antarguru, setiap alat memiliki fungsi yang berbeda.
Namun, tidak ada satu tools yang dapat menggantikan seluruh proses penyuntingan.
Untuk materi Bahasa Indonesia, kombinasi antara teknologi dan rujukan kebahasaan resmi merupakan pendekatan yang lebih aman. Guru dapat menggunakan KBBI Daring untuk memastikan kosakata, EYD sebagai pedoman ejaan, serta Sipebi untuk membantu proses penyuntingan teks.
Sementara itu, tools seperti Trinka, LanguageTool, plagiarism checker, Google Docs, dan QuillBot dapat digunakan sesuai kebutuhan dan fungsi masing-masing.
Yang paling penting adalah menempatkan AI sebagai asisten, bukan sebagai pengganti kemampuan guru dalam menilai kualitas materi.
Materi pembelajaran yang baik bukan hanya materi yang bebas dari salah ketik. Materi yang baik harus akurat, mudah dipahami, sesuai tingkat perkembangan siswa, menggunakan bahasa yang tepat, memiliki sumber yang jelas, dan mendukung tujuan pembelajaran.
Dengan alur kerja yang tepat, teknologi dapat membantu guru menghemat waktu tanpa mengurangi peran manusia dalam memastikan kualitas pembelajaran.
Referensi
Saya batasi menjadi 3 referensi dari sumber Indonesia seperti yang diminta:
- Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2022). Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) Edisi V. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
- Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2026). KBBI VI Daring. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
- Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2026). Sipebi: Aplikasi Penyuntingan Ejaan Bahasa Indonesia. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Thanks for reading 7 Tools AI untuk Menulis dan Mengecek Materi Bahasa Indonesia agar Lebih Rapi dan Bebas Kesalahan. Please share...!
0 Komentar untuk "7 Tools AI untuk Menulis dan Mengecek Materi Bahasa Indonesia agar Lebih Rapi dan Bebas Kesalahan"