Bahasa merupakan objek kajian utama dalam linguistik. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak pernah lepas dari bahasa karena bahasa menjadi alat utama untuk berpikir, berkomunikasi, mengekspresikan perasaan, menyampaikan pengetahuan, dan membangun hubungan sosial. Oleh karena itu, memahami hakikat bahasa menjadi langkah awal yang sangat penting dalam mempelajari linguistik umum.
Pada bab ini dibahas secara mendalam pengertian bahasa menurut para ahli, ciri-ciri hakiki bahasa, sifat-sifat bahasa, serta berbagai fungsi bahasa dalam kehidupan manusia. Pembahasan disusun secara sistematis dan dilengkapi dengan contoh-contoh konkret agar mudah dipahami oleh mahasiswa.
2. Pengertian Bahasa
Secara umum, bahasa dapat didefinisikan sebagai sistem lambang bunyi yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi. Definisi ini tampak sederhana, namun di dalamnya terkandung konsep-konsep penting yang menjadi dasar kajian linguistik.
Beberapa definisi bahasa menurut para ahli antara lain:
Chaer (2014) menyatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam, dan manusiawi. Definisi ini menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar bunyi, melainkan sistem yang memiliki aturan dan digunakan secara sosial.
Kridalaksana (2008) mendefinisikan bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri. Definisi ini menekankan fungsi sosial bahasa sebagai alat pemersatu kelompok.
Sementara itu, Saussure memandang bahasa sebagai sistem tanda (sign system) yang terdiri atas penanda (signifier) dan petanda (signified). Penanda berupa bunyi bahasa, sedangkan petanda berupa konsep atau makna yang ada dalam pikiran.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah sistem simbol bunyi yang disepakati secara sosial dan digunakan manusia untuk menyampaikan makna.
3. Ciri-Ciri Hakiki Bahasa
Bahasa memiliki sejumlah ciri utama yang membedakannya dari sistem komunikasi lain, seperti isyarat pada hewan atau simbol buatan. Ciri-ciri tersebut antara lain sebagai berikut.
a. Bahasa Bersifat Sistematis
Bahasa tersusun secara teratur dan sistematis. Setiap bahasa memiliki subsistem, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Unsur-unsur bahasa tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan.
Contohnya, dalam bahasa Indonesia terdapat aturan susunan kata dalam kalimat, seperti pola Subjek–Predikat–Objek (S-P-O). Kalimat "Siswa membaca buku" dianggap gramatikal, sedangkan "Membaca siswa buku" tidak sesuai dengan sistem bahasa Indonesia.
b. Bahasa Bersifat Arbitrer
Arbitrer berarti tidak ada hubungan wajib antara lambang bahasa dan makna yang diwakilinya. Hubungan tersebut terjadi karena kesepakatan para penuturnya.
Sebagai contoh, benda yang digunakan untuk membaca disebut "buku" dalam bahasa Indonesia, "book" dalam bahasa Inggris, dan "livre" dalam bahasa Prancis. Tidak ada alasan alamiah mengapa bunyi tertentu harus mewakili makna tertentu.
c. Bahasa Bersifat Konvensional
Walaupun arbitrer, penggunaan bahasa bersifat konvensional, artinya disepakati oleh anggota masyarakat penutur. Kesepakatan inilah yang memungkinkan komunikasi berjalan lancar.
Jika seorang penutur menggunakan lambang yang tidak disepakati, maka komunikasi akan mengalami gangguan.
d. Bahasa Bersifat Produktif
Bahasa memungkinkan penuturnya menghasilkan tuturan yang tak terbatas jumlahnya dari unsur yang terbatas. Dengan jumlah kata dan aturan yang terbatas, manusia dapat membentuk kalimat baru yang belum pernah diucapkan sebelumnya.
Contohnya, seseorang dapat menciptakan kalimat baru seperti "Perpustakaan sekolah menjadi pusat literasi digital" meskipun belum pernah mendengarnya sebelumnya.
e. Bahasa Bersifat Dinamis
Bahasa selalu mengalami perubahan seiring perkembangan zaman, ilmu pengetahuan, dan budaya penuturnya. Perubahan dapat terjadi pada kosakata, makna, maupun struktur bahasa.
Contoh perubahan kosakata adalah munculnya kata-kata baru seperti "unggah", "gawai", dan "swafoto".
f. Bahasa Bersifat Variatif
Bahasa memiliki variasi atau ragam, baik berdasarkan penutur, situasi, maupun media. Variasi bahasa dapat berupa dialek, sosiolek, dan ragam resmi atau tidak resmi.
Sebagai contoh, bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah berbeda dengan bahasa percakapan sehari-hari.
g. Bahasa Bersifat Manusiawi
Bahasa merupakan ciri khas manusia. Sistem komunikasi hewan tidak memenuhi semua ciri bahasa manusia karena terbatas, tidak produktif, dan tidak memiliki sistem gramatikal yang kompleks.
4. Sifat-Sifat Bahasa
Selain ciri-ciri di atas, bahasa juga memiliki sifat-sifat berikut.
Bahasa bersifat unik, karena setiap bahasa memiliki karakteristik yang membedakannya dari bahasa lain.
Bahasa bersifat universal, karena semua bahasa memiliki unsur-unsur dasar yang sama, seperti bunyi dan makna.
Bahasa merupakan alat berpikir, karena manusia berpikir dengan menggunakan bahasa.
5. Fungsi Bahasa
Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga memiliki fungsi-fungsi lain yang kompleks. Para ahli mengemukakan berbagai klasifikasi fungsi bahasa.
a. Fungsi Informatif
Bahasa digunakan untuk menyampaikan informasi, pengetahuan, atau fakta.
Contoh: "Perpustakaan sekolah buka setiap hari Senin sampai Jumat."
b. Fungsi Ekspresif
Bahasa berfungsi untuk mengungkapkan perasaan atau sikap penutur.
Contoh: "Saya sangat bangga menjadi pustakawan."
c. Fungsi Direktif
Bahasa digunakan untuk memengaruhi atau mengarahkan perilaku orang lain.
Contoh: "Silakan kembalikan buku tepat waktu."
d. Fungsi Estetik
Bahasa digunakan untuk keindahan, seperti dalam karya sastra.
Contoh: puisi, cerpen, dan pantun.
6. Fungsi Bahasa Menurut Halliday
Halliday mengemukakan tujuh fungsi bahasa anak yang kemudian berkembang menjadi tiga metafungsi bahasa dewasa, yaitu:
Fungsi ideasional: bahasa untuk menyampaikan pengalaman dan gagasan.
Fungsi interpersonal: bahasa untuk membangun hubungan sosial.
Fungsi tekstual: bahasa untuk membentuk teks yang padu dan koheren.
Ketiga fungsi ini saling berkaitan dan selalu hadir dalam setiap penggunaan bahasa.
7. Bahasa, Pikiran, dan Budaya
Bahasa memiliki hubungan erat dengan pikiran dan budaya. Bahasa memengaruhi cara manusia memahami realitas, sementara budaya turut membentuk cara bahasa digunakan.
Contohnya, istilah kekerabatan dalam bahasa Indonesia mencerminkan nilai kekeluargaan yang kuat dalam budaya masyarakat Indonesia.
8. Kedudukan Bab dalam Kajian Linguistik
Pemahaman tentang hakikat dan fungsi bahasa menjadi dasar untuk mempelajari cabang-cabang linguistik lainnya, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan wacana. Tanpa pemahaman ini, kajian linguistik akan kehilangan landasan konseptualnya.
Referensi
Bloomfield, L. (1933). Language. New York, NY: Holt, Rinehart and Winston.
Chaer, A. (2014). Linguistik umum. Jakarta, Indonesia: Rineka Cipta.
Chomsky, N. (2002). Syntactic structures. Berlin, Germany: Mouton de Gruyter.
Halliday, M. A. K., & Hasan, R. (1985). Language, context, and text: Aspects of language in a social-semiotic perspective. Victoria, Australia: Deakin University Press.
Kridalaksana, H. (2008). Kamus linguistik (Edisi ke-4). Jakarta, Indonesia: Gramedia Pustaka Utama.
Lyons, J. (1995). Linguistic semantics: An introduction. Cambridge, UK: Cambridge University Press.
Saussure, F. de. (2011). Course in general linguistics (W. Baskin, Trans.). New York, NY: Columbia University Press.
Verhaar, J. W. M. (2012). Asas-asas linguistik umum. Yogyakarta, Indonesia: Gadjah Mada University Press.
Yule, G. (2020). The study of language (7th ed.). Cambridge, UK: Cambridge University Press.
Thanks for reading Hakikat Bahasa dan Fungsi Bahasa. Please share...!
0 Komentar untuk "Hakikat Bahasa dan Fungsi Bahasa"